Sedangkan untuk sembahyang di rumah, hanya dua batang hio yang digunakan. Sebab, sembahyang di rumah umumnya merupakan sembahyang leluhur dan dilakukan di meja abu. Mereka memanjatkan doa kepada anggota keluarga yang telah wafat.
Dua batang tersebut mengandung arti kehidupan dan kematian. Sehingga manusia akan selalu mengingat bahwa ada kehidupan dan pasti ada kematian.
"Kalau untuk sembahyang leluhur jumlahnya dua batang. Supaya orang ingat kehidupan dan kematian," tutup Tjin Eng.
(Johan Sompotan)