BANYAK orang menjadi trauma setelah mengalami peristiwa buruk, yang membawanya hampir menuju maut tapi kemudian bisa lolos darinya. Lantas, bagaimana hal ini bisa diatasi?
Menurut psikolog Melly Puspita Sari, Psi, M, NLPm, kondisi trauma adalah proses asosiasi yang tidak bisa ditahan atau dikontrol. Asosiasi itu muncul dari pengalaman-pengalaman yang dialami seseorang terhadap suatu kejadian yang biasanya buruk sehingga sulit untuk dilupakan.
Untuk menghilangkan trauma, seseorang harus perlu memaknai pengalaman buruknya menjadi pemahaman yang berbeda. Dengan demikian, perasaan trauma itu akan hilang dengan sendirinya.
“Intinya adalah bagaimana pemaknaan terhadap hidup seseorang, bagaimana pemaknaan terhadap objek-objek yang terjadi dari peristiwa yang dia lihat,” katanya kepada Okezone melalui sambungan telefon, belum lama ini.
Melly menjelaskan, trauma bisa diatasi dengan beberapa macam terapi, mulai dari hipnoterapi yang menggunakan konsep hipnotis, terapi-terapi yang menggunakan konsep enaupi, psikoterapi yang merupakan terapi dengan menggunakan konsep psikologis, timeline therapy, atau terapi-terapi seperti forgiveness yang mengajak pasien untuk memaafkan sebagai kunci dari kesembuhan.
Lebih lanjut, ujar Melly, seseorang yang mengalami trauma sebenarnya sadar dengan kondisi tersebut. Apalagi, ada perasaan tidak nyaman yang selalu menyertainya. Namun, menurutnya, sederet terapi tersebut hanya alat, hanya akan mengubah nasib seseorang kalau yang bersangkutan memang mau berubah.
“Jadi, kesembuhannya tetap berawal dari orang yang bersangkutan. Maukah dia keluar dari lingkaran tersebut untuk masuk ke lingkaran baru dengan harapan baru, atau dia mau di situ terus diam tidak melakukan apa-apa?,” tutupnya.
(Ainun Fika Muftiarini)