Tidak sulit mencapai Papandayan. Bila menggunakan bus dari berbagai daerah, seperti Jakarta, berhentilah di Terminal Guntur, Garut. Selanjutnya menumpangi angkot khusus pendaki dengan harga yang tidak begitu mahal hingga ke Simpang Tiga Cisurupan. Dari sana, perjalanan kembali dilanjutkan dengan mobil pikap menuju Camp David atau pos I gerbang pendakian.
Selama perjalanan menggunakan mobil pikap dengan estimasi waktu sekira satu jam, panorama alam yang tersaji cukup memacu dopamin sekaligus adrenalin. Di satu sisi, panorama yang begitu menakjubkan berupa jajaran pepohonan hijau dan pegunungan berselimut awan tipis membuat perasaan bahagia. Tapi di sisi lain, juga merasa tegang karena jalan yang dilintasi terus menanjak sekaligus menikung.
Begitu sampai di Camp David, silakan melakukan registrasi sebelum melakukan pendakian. Dari sini, pendaki akan melewati jalan berbatu yang kadang landai kadang menanjak. Dalam perjalanan menuju pos II inilah terdapat Kawah Papandayan. Areanya cukup luas mencapai 10 hektare. Ini merupakan kawasan gunung berapi yang masih aktif. Pada kawahnya terdapat lubang-lubang magma yang mengeluarkan air dan asap. Sebaiknya menggunakan masker, karena bau belerang cukup menyengat di sini.
Setelah melewati jalan berbatu, jalur yang dilalui menuju pos II cukup sulit. Pendaki harus berjalan menanjak dengan kemiringan sekira 60 derajat. Jika sedang musim hujan, jalanan menjadi licin karena becek. Di pos II, pendaki diminta kembali melakukan pendaftaran. Tempat ini juga bisa dijadikan tempat istirahat karena terdapat warung yang menjual makanan dan minuman ringan.
Selanjutnya, perjalanan menuju Pondok Saladah dengan melintasi hutan dan medan yang dilalui masih menanjak. Tempat ini merupakan padang rumput seluas delapan hektar, dan di sinilah tempat pendaki mendirikan kemah. Jika malam sedang cerah, Pondok Saladah merupakan spot terbaik untuk menyaksikan bulan dan tebaran bintang. Tempat ini juga pas bagi mereka yang menyukai keheningan.