STUDI yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism (JCEM) menunjukkan, bahwa masyarakat di negara berkembang cenderung memiliki tingkat risiko diabetes dan gangguan metabolisme yang tinggi. Hal tersebut dikarenakan meningkatnya hormon stres, kortisol.
Hormon kortisol merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko diabetes terhadap seseorang dan begitu juga masalah metabolik lainnya.
Untuk mengetahui kebenaran teori ini, peneliti menguji penduduk pedesaan dan perkotaan satu kelompok-etnis, yaitu suku Ovahimba yang bermukim di Namibia, barat daya Afrika.
Di antara masyarakat perkotaan, 28 persen masyarakatnya mengidap diabetes atau kelainan metabolisme glukosa. Mereka juga memiliki kadar hormon kortisol yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan masyarakat pedesaan.
Salah satu peneliti, Peter Herbert Kann, dari Philipps University di Marburg, Jerman, mengatakan hormon kortisol masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan lebih tinggi daripada yang tinggal di daerah pedesaan.
“Temuan kami menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan gaya hidup pedesaan untuk tinggal di lingkungan perkotaan akan memiliki tingkat hormon kortisol yang lebih tinggi,” demikian seperti dilansir Khaleejtimes, Senin (22/12/2014).
“Stres ini nampaknya memengaruhi peningkatan penderita diabetes di negara-negara berkembang,” pungkas Kann. (yac)
(Tuty Ocktaviany)