KEMOTERAPI sudah cukup familier didengar orang awam. Kemoterapi merupakan penggunaan zat kimia untuk perawatan penyakit yang mayoritas dipakai untuk terapi pengobatan kanker.
Tujuan kemoterapi pada penyembuhan kanker adalah menghambat atau menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker pada tubuh pasien. Prinsip kerja obat-obatan kemoterapi adalah menyerang fase tertentu atau seluruh fase pada pembelahan mitosis sel-sel yang bereplikasi atau berkembang dengan cepat.
Namun, benarkah mitos yang menyatakan kemoterapi bisa semakin memperparah pasien kanker?
dr Ronald Hukom, Sp.Pd mengatakan, tidak benar jika kemoterapi semakin memperparah pasien kanker. Menurutnya, kemoterapi merupakan pengobatan standar yang dilakukan oleh pasien kanker, dan telah terjamin keamanannya.
"Itu tidak benar. Kalau kemoterapi malah memperparah pasien kanker, rumah sakit kanker sudah tutup dong. Yang benar, jika pasien yang sudah stadium lanjut terlambat ditangani," ungkap dr Ronald di Aston Hotel, Kuningan, Jakarta, Rabu (17/12/2014).
Hanya, memang ada efek samping dari kemoterapi. Seperti, mual, rambut rontok, dan lemas.
"Karena sel kanker tadi sudah bikin lemas, jadi tidak benar kemoterapi pasien kanker makin parah," tegasnya.
Sebelum dilakukan kemoterapi, ada beberapa persyaratan untuk si pasien kanker, salah satunya melihat usia si pasien, cek fungsi jantung, ginjal, dan hati. Kemudian dipilih obat yang sesuai jenis kanker tersebut.
"Jadi tidak serta-merta pasien kanker langsung dikemoterapi. Harus dicek sebelumnya," pungkasnya. (yac)
(Tuty Ocktaviany)