KEBUN Binatang Surabaya (KBS) tengah menjadi pembicaraan karena nasib hewan-hewannya yang semakin mengenaskan. Sebenarnya, bagaimana sejarah kebun binatang yang dulunya pernah menjadi favorit warga Surabaya dan sekitarnya ini?
Kebun Binatang Surabaya (KBS) salah satu yang populer di Indonesia, terletak di Jalan Setail No. 1 Surabaya. Dulu, KBS pernah menjadi kebun binatang terlengkap se-Asia Tenggara dengan koleksi 351 spesies satwa berbeda dan terdiri dari 2.806 hewan, termasuk satwa langka Indonesia maupun dunia.
KBS pertama kali didirikan berdasar SK Gubernur Jenderal Belanda tanggal 31 Agustus 1916 No. 40, dengan nama “Soerabaiasche Planten-en Dierentuin” (Kebun Botani dan Binatang Surabaya). Berdirinya kebun binatang ini juga merupakan jasa dari seorang jurnalis, H.F.K Kommer, yang hobi mengumpulkan hewan. Saat itu, KBS berlokasi di Kaliondo.
Kemudian pada 28 September 1917, KBS pindah ke Jalan Groedo. Dan, pada 1920 pindah ke daerah Darmo untuk areal kebun binatang yang baru atas jasa OOST-Java Stoomtram Maatschappij atau Maskapai Kereta Api yang memberikan lahan kebun binatang lebih luas.
KBS juga pernah mengalami krisis pada awal pembukaanya. Pada 1922, KBS nyaris ditutup karena bangkrut, namun anggota pengurusnya tidak setuju sehingga urung dilakukan. Kemudian pada 1923, didirikanlah Perkumpulan Kebun Binatang dengan ketua W.A Hompes, yang mengurusi segala aktivitas KBS.
Ia berhasil membujuk anggota DPR Surabaya serta Wali Kota untuk menaruh perhatian pada KBS sehingga ditempatkan di areal yang lebih luas. Hingga saat ini, luasnya mencapai 85 ribu meter persegi, seperti dikutip dari situs resmi Pemkot Surabaya.
Dalam perkembangannya, KBS telah berubah fungsi. Kebun Binatang Surabaya yang dahulu hanya tempat penampungan satwa eksotis koleksi pribadi, telah menjadi sarana perlindungan dan pelestarian, pendidikan, penelitian, dan rekreasi. Jumlah dan jenis binatang yang menjadi koleksi KBS dari tahun ke tahun terus bertambah, baik berasal dari luar negeri maupun dalam negeri.
KBS menjadi pusat hiburan sekaligus edukasi bagi masyarakat Surabaya dan Jawa Timur. Namun sayang, seiring perkembangannya, kebun binatang ini malah semakin memprihatinkan kondisinya.
Sejak 2010, berkali-kali KBS mendapat keluhan dari kelompok aktivis dan LSM pencinta hewan akibat banyak hewan di kebun binatang ini yang mati secara misterius atau mengenaskan. Hewan-hewan yang mati pun tidak tanggung-tanggung, seperti harimau sumatera yang langka, singa afrika, komodo, buaya, dan masih banyak lagi.
Kondisi hewan-hewan yang hidup pun terlihat semakin mengenaskan. Hewan-hewan ini terlihat kurus, hanya tulang berbalut kulit. Bahkan sempat ditemukan jerapah yang tewas dengan tumpukan plastik di perutnya.
Nasib KBS kini masih menggantung. Pemkot secara resmi belum menutupnya, tapi hewan-hewan yang ada di dalamnya masih terus menunggu kelanjutan hidup mereka.
(Fitri Yulianti)