FASHION show menjadi salah satu bagian dari perhelatan Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFF) 2013. Dalam kesempatan itu, pergelaran tidak hanya diramaikan dengan desainer senior, tapi juga desainer pendatang baru.
Dalam tema
Dynamic Airs, sebanyak tujuh desainer meramaikan slot
show awal yang digelar di Mainstage, Assembly Hall, Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Kamis (30/5/2013).
Suguhan busana kerja hingga busana
cocktail dipamerkan. Secara keseluruhan, kreasi para desainer muda tersebut patut diacungi jempol. Namun di balik keindahan kreasi tersebut, ada catatan yang perlu menjadi bahan evaluasi para desainer muda itu.
"Ada desain dari atas ke bawah itu bunga. Itu bagus, tapi akan terlihat
dreamy lagi kalau bunga dari atas ke bawah tidak sama," tutur Taruna K Kusmayadi, Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Pusat usai parade
show.
Selain itu, koreksi yang digarisbawahi desainer yang kerap disapa Nuna ini ialah adanya sambungan manset yang polos.
"
Kan bisa saja menggunakan bahan polkadot atau kotak-kotak," sambungnya.
Mengenai hal tersebut, Nuna berusaha memakluminya. Pasalnya, alasan itu tentunya terkait dengan pengalaman yang dimilikinya.
"Itu banyak berhubungan dengan jam terbang. Dari sini mereka bisa evaluasi sendiri," sarannya.
Perlu adanya harmonisasi
Merancang busana tentunya perlu ada sebuah harmonisasi. Artinya, ada kesinambungan antara koleksi dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Sayangnya, poin tersebut belum terpenuhi secara utuh pada para desainer.
"Kalau kita
show yang harus dipikirkan itu dari kepala sampai kaki. Yang tadi itu kepalanya bagus, tapi sepatu dan
stocking tak
dipikirin. Kalau untuk jualan saya pikir bagus ya,
mix and match jadi tak perlu beli satu set. Target market juga jelas, seperti tadi ada baju kerja, baju yang dikelompokkan untuk formil
party, dan
sporty. Jadi kalau saya pikir, di situ memang benar. Tapi untuk penyatuan tema, mereka masih mempunyai waktu panjang untuk mahir lagi," tutupnya.
(Tuty Ocktaviany)