SEMASA hidupnya, Iwan Tirta memang selalu berdedikasi untuk
mengembangkan dan melestarikan batik. Bahkan, almarhum percaya kalau batik seperti permata yang harus selalu diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Sebagai salah satu bentuk peringatan 1.000 hari meninggalnya sang maestro,
Iwan Tirta Private Collection sengaja membuat sebuah persembahan spesial dalam bentuk instalasi seni tiga dimensi.
"Ini pengejewantahan dari permata Mas Iwan, di mana dimensinya bisa memberikan pengaruh bagaimana kita jadi pemimpin yang baik," tutur
Era Soekamto, Direktur Kreatif Iwan Tirta Private Collection di Senayan City, Jakarta Selatan, Rabu, 29 Mei 2013.
Karya yang merupakan hasil kolaborasi Era Soekamto dengan Julius Bramanto itu memang terbilang sangat unik. Berbagai motif klasik dari Iwan Tirta ditampilkan dengan menggunakan material akrilik sebanyak 16 layer yang berukuran 2,4 meter x 4 meter. Tentunya hal itu dikemas dalam beberapa konsep yang mengandung filosofi tersendiri.
"Konsepnya ada tiga, yaitu
past, yang bisa dilihat dari motifnya,
present lebih kepada pesan untuk kalangan muda tentang makna batik dan
future, yakni bagaimana bisa menjadi identitas," terangnya.
Sedangkan untuk pemilihan motif, Era menuturkan bahwa hal itu merupakan implementasi dari berbagai simbol dari alam semesta atau hasta brata. Simbol tersebut kemudian dilebur dalam motif Pisan Bali Manggar Latar Truntum yang memiliki arti sebagai pedoman hidup.
"Hasta Brata terinspirasi dari alam semesta, yaitu bintang, langit, air, samudera, api, matahari, angin, candra. Ada delapan sisi yang mengajarkan tentang pedoman tingkah laku," tutupnya.