KIPRAH desainer Indonesia rupanya mulai diakui dunia. Hal ini pun terbukti setelah brand Major Minor sukses menembus pasar internasional melalui program fashion forward sebagai rangkaian event Jakarta Fashion Week (JFW).
"Ini tahun kedua penyelenggaraan Fashion Forward, yaitu sebuah program untuk label Indonesia agar mendunia. Kami melakukan program inkubasi untuk para desainer dari Februari sampai November 2013," ujar Svida Alisjahbana, Direktur JFW 2014 pada konferensi Indonesia Fashion Forward di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta Pusat, Senin, 13 Mei 2013.
Seperti diketahui, Fashion Forward merupakan salah satu program hasil kerja sama antara JFW, British Council, Centre for Fashion Enterprise (CFE) dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI. Tujuan utama dari program tersebut adalah upaya dalam membantu para desainer lokal agar semakin berkembang dan mampu menembus pasar internasional.
Untuk tahun ini, sebanyak 12 desainer lokal dibina secara langsung melalui program tersebut. Mereka di antaranya adalah Vinora Ng, Toton Yanuar, Tex Saverio, dan Friederich Herman, Nefertiti (Prita Widyaputri), Monday to Sunday (Dita Addlecoat, Mellyun Xing, Oline Siahaan, serta Riyam Soepardi), Milcah (Faustine Arthaputri), dan 8eri (Eridani), Nur Zahra dan Jenahara. Lianna Gunawan (La Spina dan Lianna), serta Novita Yunus (Batic Chic).
Dalam kesempatan yang sama, Mari Elka Pangestu selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga menuturkan bahwa program tersebut menjadi bukti nyata atas kiprah para desainer lokal dalam memajukan bisnisnya sehingga tidak hanya sekadar membuat busana saja tetapi juga ada keberlanjutan.
"Kami senang akhirnya kerja sama itu sudah naik kelas. Kita akan mengembangkan domestic brand, di luar nilai ekonomisnya, ada branding lokal sehingga bisa mengangkat Indonesia menjadi pusat industri kreatif," paparnya.
"Setelah melakukan awareness pentingnya JFW, adalah bagaimana meningkatkan kapasitas dan SDM dalam melakukan bisnis fashion, bukan hanya membuat desain, tapi membuat bisnis yang ada keberlanjutannya,"tutupnya. (ind)
(Tuty Ocktaviany)