JAKARTA - Naik busway sambil belajar sejarah? Pastinya menyenangkan sekali, jalan-jalan keliling Jakarta dan mengenali sejarahnya. Itulah yang dilakukan peserta Tour De Busway dalam rangka perayaan Cap Go Meh.
Komunitas Historia Indonesia kembali mengadakan acara seru bertajuk Tour De Busway yaitu tur dengan menggunakan busway Transjakarta sambil mengupas sejarah dalam rute yang dilewati. Bertepatan dengan perayaan Cap Go Meh, maka yang dipilih pun rute koridor I jurusan Blok M-Kota. Rute ini dipilih karena paling banyak menyimpan sejarah perjalanan bangsa Tionghoa di Jakarta.
Perjalanan dimulai dari halte Bunderan HI hingga halte Sawah Besar. Sebanyak 250 peserta dari berbagai daerah mengikuti kegiatan ini. Mereka pun terbagi ke dalam enam grup sesuai dengan warna pin yang diberikan seperti biru, merah, oranye, hijau, abu, dan ungu. Terdapat enam guide muda mudi yang mendampingi enam kelompok tersebut. Pada kali ini, Okezone berkesempatan untuk bergabung dengan grup yang langsung dipimpin oleh Asep Kambali, Ketua Komunitas Historia Indonesia.
Komunitas Historia Indonesia bekerja sama dengan Bus Transjakarta dalam menyelenggarakan acara ini. Peserta dibagi ke dalam dua bus gandeng yang disediakan. Sepanjang jalan, Kang Asep dan guide lainnya menjelaskan sejarah dari bangunan-bangunan yang terlewati.
"Coba semuanya menghadap ke depan dan lihat di sebelah kanan. Itulah gedung Sarinah yang merupakan mal modern pertama di Indonesia. Dibangun tahun 1962 atas prakarsa Soekarno dan para peserta Asean Games pun pernah berbelanja di Sarinah," tutur Asep Kambali.
Penjelasan pun terus dilanjutkan saat melewati gedung Bank Indonesia yang dibangun pada tahun 1828. Pada sekira tahun 1965 pernah terjadi inflasi yang sangat tinggi karena Bank Indonesia mencetak rupiah secara terus menerus.
Perjalanan busway pun berakhir di Halte Sawah Besar untuk menuju Gedung Arsip Nasional. Di sini, Kang Asep menjelaskan sejarah dari Gedung Arsip Nasional. Selesai menjelaskan sejarah Gedung Arsip Nasional dan beberapa bangunan lainnya, para peserta pun berjalan kaki sejauh 750meter hingga Novotel Glodok. Tak banyak yang tahu jika kita memasuki area hotel ini, pengunjung dapat melihat sebuah bangunan Tionghoa.
"Bangsa Tionghoa sebenarnya juga memiliki peranan yang penting dalam kemerdekaan Indonesia," ujar Kang Asep.
Bangunan Candra Naya ini menjadi titik akhir perjalanan perjalanan Tour De Busway. Bangunan ini pada zaman dahulu merupakan rumah Mayor Khouw Kim An. Dialah mayor China yang bertugas mengurusi kepentingan bangsa China pada masa penjajahan. Di tempat ini, para peserta pun bertemu dengan Naniek Widayati, President Director Centre for Architecture and Conservation untuk bertanya jawab mengenai sejarah.
"Bangunan Candra Naya ini mulanya adalah rumah Mayor Khouw Kim An, setelah beliau meninggal, bangunan digunakan oleh sebuah lembaga non profit dalam bidang pendidikan," tutur Naniek Widayati.
Para peserta pun terlihat antusias mengikuti kegiatan Tour De Busway ini. Salah satunya adalah Dholi yang datang dari Bogor.
"Seru sih, walaupun ada kekurangan teknis seperti suara yang kurang jelas. Saya sih pengennya acara kayak gini diadain juga di Bogor biar warga sekitarnya juga lebih peduli," tutur Dholi.
(Fitri Yulianti)