JAKARTA - Dijajah selama ratusan tahun, Indonesia hingga kini bak kampung halaman bagi banyak warga Belanda. Namun, masih ada pula yang menyimpan pandangan negatif.
Setelah perjalanannya ke London dan Thailand di penghujung 2012, maka awal 2013 ini Putri Pariwisata 2012 Reinita Arlin Puspita kembali berangkat mempromosikan Indonesia keluar negeri. Kali ini, tujuannya adalah Utrecht, Belanda, untuk mengikuti bursa pariwisata terbesar, Vakantiebeurs 2013.
Vakantiebeurs 2013 diselenggarakan secara regular pada Januari setiap tahun, dan diikuti oleh para pelaku industri pariwisata dari seluruh dunia. Mereka datang dari kalangan pemerintah maupun swasta, seperti kementerian-kementerian pariwisata, agen perjalanan, maskapai penerbangan, jaringan hotel, dan perusahaan penyedia jasa layanan pariwisata lainnya.
"Sebagai spoke person pariwisata Indonesia, saya berada di garda depan bersama-sama rombongan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia untuk menghadapi berbagai macam keingintahuan visitor Pavilion Indonesia," kata Arlin.
Pameran yang berlangsung 8-13 Januari ini memang menarik karena menampilkan banyak pertunjukan. Rombongan budaya Indonesia sendiri menampilkan hiburan alat musik Sasando yang dimainkan oleh Yackob Bullan, atraksi Barista oleh Deryl Juniar dari Asosiasi Kopi Indonesia, hingga penampilan tarian Poco-Poco asal Maluku.
Tarian Poco-Poco sudah digemari masyarakat Indonesia, bahkan hingga ke berbagai negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan Timor Leste. Arlin menuturkan, para tamu ikut menari Poco-Poco, di antaranya Direktur Jendral Promosi Pariwisata Esthy Reko Astuti, Duta Besar Indonesia untuk Belanda H.E Retno L.P Marsudi, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Vera Ellen Tomasoa, tak terkecuali dirinya.
Rombongan Indonesia tak ketinggalan membawa kuliner khas Indonesia untuk dipromosikan, mulai dari kopi, permen jahe, hingga jajanan pasar khas daerah seperti panada, risoles, kue lumpur, aneka kue lapis, hingga lemper. “Ternyata banyak pengunjung, khususnya masyarakat Belanda yang pernah ke Indonesia. Setidaknya terdapat sekitar 1,6 juta penduduk Belanda yang mempunyai hubungan darah dengan Indonesia, dan setiap kali berlibur di Indonesia rata-rata 2-3 minggu lamanya. Ini celah yang saya gunakan untuk mengeksplor destinasi wisata yang ada di Indonesia agar mereka melihat banyak tempat di tanah air," jelasnya.
Kehadiran Arlin rupanya menarik perhatian kalangan media. Berkali-kali Arlin diwawancarai media dari berbagai negara, mulai dari media televisi, koran, online, hingga mahasiswa jurusan pariwisata yang ingin belajar tentang Indonesia.
"Beberapa media dan visitor juga sempat menanyakan tentang apakah Indonesia membenci orang Belanda karena sejarah kita dulu. Saya mengatakan bahwa adanya akulturasi budaya dari Belanda kepada budaya kita malah memperkaya Indonesia yang beragam suku bangsanya. Bangsa Indonesia berjuang dan tak pernah menyerah untuk merdeka saat itu, dan dari situ malah terbentuk persatuan dan kesatuan. Dengan sejarah itu, Indonesia dan Belanda memiliki hubungan khusus. Respon mereka berubah menjadi positif," cerita Arlin.
Penampilan Arlin tak kalah menarik perhatian, dengan kebaya dan batik juga untuk tasnya yang berbahan batik hingga aksesori tradisional. Arlin juga membagikan berbagai macam suvenir dari Indonesia, salah satunya dompet batik yang menjadi rebutan para pengunjung.
(Fitri Yulianti)