Tradisi Berbalas Pantun Sepekan Lestari di Nagari Abai

Rus Akbar, Jurnalis
Selasa 06 November 2012 23:01 WIB
Menjelang tradisi pernikahan di rumah gadang terpanjang Nagari Abai (Foto: Rus/Okezone)
Share :

ABAI - Ternyata, tidak hanya Rumah Gadang (rumah adat) Nagari Abai panjang yang ada di Kecamatan Sungai Batang Hari, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Daerah ini juga menyimpan budaya dan tradisi masyarakat lokal.

Tradisi yang diturunkan sejak nenek moyang warga Nagari Abai ini adalah berpantun atau batombe selama sepekan. Tradisi ini dilakukan saat pernikahan salah satu anggota suku tersebut. Nah, tak kalah menariknya, berpantun ini dilakukan selama tujuh hari.

Menurut Wali Nagari Abai, Ceng Hardi, tradisi ini sudah dilakukan sejak dulu, bahkan sebelum Belanda masuk ke daerah tersebut. “Biasanya, anak-anak muda ini akan berbalas pantun, tapi orang dewasa yang sudah berkeluarga juga akan ikut serta,” tuturnya.

Namun, sebelum melakukan berbalas pantun pada malam hari, terlebih dahulu ada kesepakatan para tokoh adat di Nagari tersebut. “Untuk tokoh adat ini, ada 14 orang atau datuak-datuak yang ada di sini membicarakan dulu. Kalau sudah sepakat, malam hari baru dimulai berbalas pantunnya,” ujarnya.

Biasanya, para pemuda dan pemudi membentuk kelompok-kelompok dalam rumah gadang. Pria membuat kelompoknya, perempuan juga membuat kelompok yang berkisar lima orang. Pantun didendang seperti nyanyian dan diiringi musik tradisional dinamakan Rabab yang mirip biola, tapi memilki empat senar.

Tentu, rumah gadang terlebih dahulu dihiasi pernak-pernik khas adat Minangkabau. “Jika kelompok perempuan mulai, akan disahut kelompok laki-laki, begitulah seterusnya. Isi pantun kadang menyinggung perasaan, kadang merayu, kadang ada juga seperti pernyataan rasa hati pada seseorang,” terang Hardi.

Kendati sudah tidak banyak orang yang berpantun dan sanggup mendendangkan, tapi tradisi terus terjadi. Dalam acara Batombe, terjadi interaksi ajang mencari jodoh bagi kawula muda.

“Bisa pantun disampaikan untuk menggoda, bisa juga menyindir,“ katanya.

Sebenarnya, awal tradisi Batombe berawal ketika salah satu suku mendirikan rumah adat. Saat itu, kayu kulin atau kayu besi yang telah ditebang tidak bisa warga menyeret sampai ke kampung.

“Untuk tonggak rumah gadang ini, ditarik dari hutan secara gotong royong seluruh warga di Abai. Nah, saat itu kayu tidak bisa diseret lalu diadakan pembicaraan dengan tokoh adat, akhirnya dilakukanlah penyembelihan satu ekor kerbau,” jelasnya.

Maka setelah itu, agar tidak penat maka peserta yang ikut menarik kayu besar tersebut di rimba belantara berbalas pantun dan saling menyahut. Namun kini, tradisi Batombe mengalami perubahan makna, sudah tidak saat pembangunan rumah gadang di daerah ini.

Tradisi Batombe kini dilestarikan pada acara hiburan pesta perkawinan dan upacara-upacara adat lain yang dalam penyelenggaraannya minimal menyembelih seekor sapi. Dan kini, Batombe menjadi suguhan khas kesenian lokal untuk para wisatawan yang berkunjung ke Nagari Abai.

(Fitri Yulianti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya