JAKARTA - Suku Asmat menjadi warna kekayaan budaya Tanah Air. Hiasan dinding menjadi salah satu kekhasannya.
Hiasan dinding menjadi salah satu ciri khas Suku Asmat, yang pas dijadikan cinderamata wisatawan. Bahan utama pembuatnya adalah kayu jati.
Dkiasyam, seorang pemahat hiasan dinding Suku Asmat, mengatakan bahwa pembuatan hiasan dinding Suku Asmat tidak pernah menggunakan desain khusus.
"Motifnya turun-temurun, hasil motifnya sesuai dengan imajinasi yang diturunkan dari nenek moyang," katanya, ketika ditemui pada "Karnival Wisata 2012", baru-baru ini.
Pembuatannya ternyata rumit dan memakan waktu cukup lama. Kayu dipilih terlebih dahulu, selain kayu jati dapat juga menggunakan jenis kayu lain.
Kayu yang digunakan harus yang memiliki kualitas baik. Pemilihannya dilihat dari hati kayu sebuah pohon. Semakin tua pohon tersebut, maka kualitasnya akan semakin baik.
Pembuatan hiasan dinding ini kemudian berlanjut dengan memahatnya berdasarkan imajinasi. Setelah selesai, hiasan dinding tidak perlu melalui tahap pengeringan.
"Tidak perlu pengeringan, tidak perlu dicat, lebih baik dipelitur saja," imbuhnya.
Pembuatan hiasan ini setidaknya memakan waktu selama satu bulan. Kayu yang secara alami berwarna coklat, lebih baik dipelitur untuk mendapatkan hasil lebih baik dan lebih alami.
Harga yang ditawarkan untuk sebuah hiasan dinding maupun patung cukup beragam. Namun, rata-rata harga hiasan yang memiliki kualitas bagus akan mencapai satu hingga puluhan juta rupiah.
Setelah berhasil mengoleksi hiasan yang rumit pembuatannya ini, merawatnya ternyata tidak cukup sulit. Anda tidak perlu takut jika hiasan ini akan habis dimakan rayap. Menempatkannya di ruangan lembap akan membuat hiasan tahan lebih lama.
Namun, jika terkena paparan sinar matahari secara terus-menerus, bukan tidak mungkin hiasan ini akan retak-retak dan cepat rusak.
(Fitri Yulianti)