SUMBA - Pacuan kuda tradisional Sumba diwarnai aksi para joki cilik tanpa sadel dan alat keamanan memadai. Mereka memacu kuda dalam kecepatan tinggi sekaligus menggadaikan nyawa. Keprihatinan muncul terhadap nasib para joki belia (8-12 tahun) yang sangat rentan kecelakaan, seperti jatuh dari atas punggung kuda hingga terinjak kuda yang berlari kencang.
Kuda dan pacuan memang sejak silam menjadi tradisi yang tak jua lepas dari kehidupan orang Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di Kabupaten Sumba Timur saja, dalam setahun minimal ada empat pergelaran, baik yang dilangsungkan di kota/kabupaten maupun di sejumlah kecamatan.
Namun sayang, dalam setiap acara itu, para penonton dan pecandu kuda hingga panitia penyelenggara cenderung lebih memfokuskan pada kuda dan atraksi para joki. Mereka menepikan keselamatan para joki. Para joki berjibaku dengan maut yang senantiasa mengintip tanpa dibekali asuransi juga helm dan sepatu pengaman.
“Saya sudah sering jatuh, tapi untuk pacuan kali ini baru saja jatuh karena tersenggol pintu gate. Tapi, saya masih mau joki lagi biar dapat uang karena satu kali joki dikasih pemilik kuda Rp50 ribu. Kalau kuda yang saya joki juara, saya dapat Rp100 ribu,” tutur Oki (12), seorang joki usai menjalani perawatan pasca jatuh dari kuda tunggangannya di Sumba, NTT.
Secara terpisah, Stefanus Pekuwali selaku Sekretaris Panitia Pacuan Kuda Bupati Cup 2012, ketika ditemui wartawan di meja panitia, membenarkan para joki yang rentan kecelakaan. “Hampir tiap hari ada yang kecelakaan, minimal ada dua joki yang jatuh. Tapi, jarang ada yang fatal, paling luka ringan dan patah tulang. Memang, kami tidak asuransikan para joki karena mepetnya waktu persiapan, apalagi kali ini 678 ekor kuda ikut dalam ajang ini, ” jelasnya.
Dia menambahkan, pihaknya sudah sering kali mengimbau para joki dan pemilik kuda menggunakan helm pengaman. Namun, hanya sedikit yang mengindahkan dengan alasan lebih nyaman dan terasa ringan saat memacu kuda.
Joki cilik tanpa sadel di atas kuda dengan pelana seadanya, tanpa helm, dan sepatu hingga taruhan terbuka di depan meja panitia dan mata aparat diakui panitia penyelenggara sudah menjadi tradisi dan sulit dienyahkan.
“Kalau judi atau taruhan itu sudah permainan rakyat sejak dahulu di arena pacuan. Kami sudah imbau dan bekerja sama dengan polisi. Namun, mau bagaimana lagi? Itu terus terjadi dan di luar jangkauan kami,” timpal Stefanus ketika dimintai tanggapannya terkait maraknya judi di arena pacu dari ragam latar belakang usia dan profesi.
Melestarikan tradisi adalah niat yang mulia .Namun, alangkah lebih luhur dan mulia jika melestarikan tradisi sekaligus menjamin keselamatan para joki, dan menertibkan para petaruh atau penjudi. Sebab cepat atau lambat, taruhan atau judi akan berisiko buruk, seperti terjadinya kericuhan dan ragam tindakan kriminal lainnya.
(Fitri Yulianti)