MADINA - Belum lama, alat musik Gordang Sambilan menjadi perbincangan masyarakat Indonesia ketika dikabarkan akan didaftarkan Malaysia dalam warisan budaya negaranya. Ini pula yang mendorong seorang wirausahawan untuk menggelar pertunjukan Gordang Sambilan.
Sobir Lubis, pengusaha distro asal Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, menggelar pagelaran Gordang Sambilan dan motor cross secara gratis bagi pengunjung dan masyarakat di kampungnya. Itu dilakukannya sebagai bentuk cinta Tanah Air juga untuk menggaet pembeli.
Maklum, di tengah menjamurnya distribution outlet (distro) di Tanah Air, Sobir harus memutar otak memikirkan desain dan tema yang unik untuk produk pakaian yang akan dijual ke masyarakat. Pengusaha berusia 35 tahun ini kini meraup jutaan rupiah per hari dari distronya yang berlabel Kampung Madina.
Seperti kebanyakan distro, Kampung Madina juga menjajakan pakaian dengan berbagai desain menarik. Uniknya, desain yang ditawarkan di aneka ragam kaosnya tidak hanya gambar hati atau sekadar animasi masa kini, namun kumpulan seni budaya Mandailing yang dikemas dalam bahasa daerah.
Kaos lengan pendek hitam bertuliskan Gordang Sambilan dengan bordir ulos adalah salah satu produk distro yang beralamat di Jalan Jambu, Lintas Timur, Kelurahan Sipolu polu, Kecamatan Panyabungan ini. "Awalnya karena kecintaan saya terhadap budaya saya, Mandailing," ujar Sobir saat ditanya asal ide Kampung Madina, di distronya.
Tentunya, hasil yang diraihnya juga melalui kerja keras. Semula dia memulai usahanya dengan memasok barang dari Bandung, Jawa Barat. Namun kini, dia lakukan sendiri pekerjaan mulai dari menjahit hingga sablon kaos. Dengan harga jual kisaran Rp90 ribu per potong, Sobir yang juga Ketua HIPMI Madina, sekarang sudah merekrut belasan orang pekerja.
Kecintaannya terhadap budaya Mandailing tidak hanya dibuktikannya dengan berjualan kaos. Namun pernak-pernik, seperti miniatur Gordang Sembilan, juga dijajakannya. Bahkan, ayah dua anak ini juga membuka sanggar budaya untuk melestarikan tradisi yang ditinggalkan nenek moyang terdahulu.
Dan saat musim mudik seperti ini, Sobir mengaku omset penjualan di distronya meningkat hingga 60 persen dibanding hari biasa. "Alhamdulillah, sejak tiga tahun saya berjualan, lebaran tahun ini paling ramai," akunya.
Sementara itu, Parluatan Nasution, seorang pembeli mengaku menyukai kaos yang diproduksi Kampung Madina. Selain coraknya yang unik, harga yang ditawarkan menurutnya masih terjangkau. Apalagi, pria yang selama ini tinggal di Bandung itu mengaku bangga mengenakan kaos bertuliskan marganya.
"Ada rasa bangga saja pakai kaos yang ada marganya," tutupnya.
(Fitri Yulianti)