Bertualang ala Amazon di Cigenter

Mutya Hanifah, Jurnalis
Senin 28 Mei 2012 00:06 WIB
Cigenter, suasana tenang yang ternyata menyembunyikan banyak buaya (Foto: Mutya/okezone)
Share :

MENDAYUNG perahu di sungai yang berada di tengah hutan sambil melihat pemandangan ular, buaya dan di sekeliling. Anda mungkin membayangkan hal tersebut hanya bisa dilakukan di Sungai Amazon, Brasil. Padahal, di Indonesia juga ada tempat bertualang yang tidak kalah menarik dengan Amazon.

Beberapa waktu lalu, Okezone berkunjung ke Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat. Taman Nasional yang terkenal dengan badaknya ini ternyata memiliki banyak destinasi wisata petualangan yang wajib Anda coba. Salah satunya adalah menjelajah Sungai Cigenter.

Sungai Cigenter adalah sebuah sungai yang berada di kawasan Pulau Handeleum. Pulau Handeleum sendiri berada di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum kurang lebih 220 hektare. Di pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove.

Kami mengunjungi Pulau Handeleum dengan menggunakan kapal penumpang biasa yang berkapasitas maksimal 20 orang. Di tengah laut, kapal kami berhenti, karena perjalanan menuju Sungai Cigenter yang berada di kawasan Pulau Handeleum harus dilakukan dengan menggunakan perahu kano. 

Perahu kano ini disebut oleh penjaga taman nasional dengan nama jukung. Setiap jukung maksimal hanya boleh menampung maksimal lima hingga tujuh orang. Bila lebih, perahu kecil ini akan terbalik karena tidak sanggup menanggung beban banyak. 

Pelan-pelan, satu persatu kami menaiki jukung yang didayung oleh para penjaga taman nasional. Sebelum naik ke jukung, kami diperingatkan oleh penjaga taman nasional agar tetap tenang dan tidak berbicara sembarangan. 

Dari jukung yang masih merapat kapal di tengah laut, sudah terlihat kawasan Cigenter yang sebentar lagi akan kami jelajahi. Nampak beberapa pohon bakau dan juga gundukan pasir. Anehnya, laut sekitar cigenter berlumpur dan gelap, berbeda dengan laut di pulau-pulau Taman Nasional Ujung Kulon lainnya yang biru jernih.

Jukung kami pun berangkat perlahan. Entah mengapa, suasana mendadak menjadi tenang dan mencekam. Petugas taman nasional mendayung jukung dengan sangat berhati-hati dan pelan, butuh kira-kira 15 menit dari kapal hingga kami sampai di Cigenter.

Saat turun dari jukung di Cigenter, kami merasakan kaki menginjak lumpur pasir yang lengket dan berat. Lumpur ini dihidupi banyak kepiting kecil dan juga salamander. Setelah itu, Yayan (40), salah seorang petugas taman nasional memandu kami berjalan masuk ke hutan Cigenter.

Kami berjalan sekira kurang lebih 250 meter, menuju Padang Penggembalaan Cigenter untuk melihat kawanan banteng liar. Padang penggembalaan ini merupakan sebuah padang rumput luas yang menjadi tempat makan para banteng. Sayangnya saat tiba, kami tidak melihat banteng satupun. "Banteng-bantengnya mungkin sadar dengan kehadiran banyak manusia, jadi sembunyi," tutur Yayan.

Akhirnya, kami kembali lagi ke jukung. Saat perjalanan dari jukung ke kapal, kami mencoba memasukkan kaki ke air untuk membersihkannya dari lumpur. Namun tiba-tiba para penjaga taman nasional melarang. "Di kapal saja bersihkan kakinya," kata Yayan sambil tersenyum.

Tiba di kapal, kami baru diberitahu bahwa sebenarnya air laut di Cigenter tadi dipenuhi buaya air asin yang ganas. Karena itulah kami diminta untuk tenang dan tidak boleh memasukkan anggota badan ke air. "Selain buaya, biasanya banyak ular phyton juga di dahan pohon," jelas Yayan. Kami cukup terkejut, karena suasana Cigenter tadi memang sangat tenang dan tidak disangka menyimpan banyak binatang buas.

Menurut Yayan, biasanya wisatawan yang ke Cigenter melanjutkan perjalanan dengan jukung hingga air terjun kira-kira satu kilomter di ujung sungai. Dari tengah sungai, wisatawan dapat melihat buaya yang bersantai di bawah pohon bakau atau diatas pasir, dan juga ular-ular phyton yang melilit di dahan. Bertualang di Cigenter benar-benar seperti bertualang di Amazon.

(Fitri Yulianti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya