Kekayaan Tenun di Indonesia Melimpah

K. Wahyu Utami, Jurnalis
Jum'at 30 Maret 2012 18:23 WIB
Koleksi Thomas Sigar (Foto: Utami/Okezone)
Share :

SELAIN kaya dengan seni dan budaya, Indonesia pun diberkahi dengan ragam kain adati yang begitu cantik dan bersejarah.
 
Potensi Indonesia akan wastra Nusantara memang tak diragukan lagi. Batik, songket, dan tenun adalah beberapa di antaranya. Yang menarik, salah satu kain yang begitu indah adalah tenun Pinawetengan yang berasal dari daerah Minahasa, Sulawesi Utara.
 
Sebagai bagian dari potensi kekayaan lokal, kain Pinawetengan pun senantiasa dikembangkan kepada masyarakat luas. Hal ini untuk menghindari penyalahgunaan kepemilikan sekaligus memasyarakatkan tenun bersejarah tersebut.
 
Menelisik nama Pinawetengan sendiri, pelabelan tersebut ternyata didapat dari guratan di atas "watoe Pinawetengan" di mana batu ini merupakan tempat pertemuan para kepala adat di daerah tersebut untuk menghimpun kebersamaan, menjauhi permusuhan, dan berkibar dalam satu persaudaraan.
 
Untuk lebih memerkenalkan kain cantik ini kepada masyarakat luas, maka digelarlah sebuah pameran bertajuk "The Enchanting Culture of Minahasa".
 
"Acara ini merupakan upaya untuk menghidupkan kembali pembuatan kain tenun yang semula pernah ada di Sulawesi Utara, saya mulai ‘concern’ terhadap pengembangan budaya di daerah tersebut," ucap Benny Mamoto, pendiri Institut Budaya Sulawesi Utara kepada okezone di acara "The Enchanting Culture of Minahasa", Museum Tekstil, Jakarta, Jumat (30/3/2012).
 
Untuk melestarikannya lebih dalam, Benny pun menggandeng desainer senior Thomas Sigar untuk menghasilkan kain tenun dengan motif khas Minahasa. Guratan khas yang ada di atas batu Pinawetangan tersebut kemudian menjadi inspirasi Thomas Sigar untuk membuat kain tenun yang dalam bahasa Minahasa disebut kaiwu.
 
"Selain kain tenun kaiwu Pinawetengan, masih banyak motif yang dikembangkan seperti tenun Tembaga, Bia, Patola, Pinatikan yang semua mengambil motif dari budaya ataupun lingkungan yang hidup di daerah Sulawesi Utara," imbuhnya.
 
Sebelumnya, kain Pinawetangan sempat tercatat memeroleh rekor MURI sekaligus award Guiness World of Record beberapa waktu lalu sebagai kain tenun tanpa putus terpanjang, yaitu sepanjang 100 meter. (ind)

(Tuty Ocktaviany)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya