WILAYAH Jakarta lekat dengan sejarah dan budayanya yang mendapatkan pengaruh dari Belanda. Jakarta juga dipandang sebagai destinasi wisata belanja yang variatif, salah satunya Glodok sebagai surga belanja elektronik yang menyenangkan.
Bermula sejak zaman sebelum Gubernur Jenderal Jan Pieter Zoon Coen berkuasa, Glodok sudah didiami oleh orang Tionghoa. Namun, setelah terjadinya pemberontakan kaum Tionghoa pada 1740, barulah Glodok menjadi pusat perkampungan mereka. Sesudah pemberontakan ditumpas oleh kompeni, mereka tidak diperbolehkan lagi tinggal di dalam tembok kota yang berada di daerah Glodok. Sejak itulah, Glodok berubah sebagai Pecinan dan pusat perdagangan.
“Awal mulanya, pedagang China di daerah Glodok berjualan rempah-rempah, kuliner, dan obat-obatan. Namun sejak 80an, masuk para pedagang pendatang yang berjualan barang-barang elektronik,” kata Jacky Sutiono, Ketua Harian Paguyuban Wisata Kota Tua dan Pengelola Pinangsia Plaza, saat ditemui okezone di Glodok, Jakarta Utara, baru-baru ini.
Jacky menjelaskan, sejak 80an, pedagang di daerah Glodok mengalami pergeseran dimana mulai banyak pedagang elektronik menyingkirkan pedagang rempah-rempahnya. Sementara, pedagang kuliner dan obat-obatan China masih ada, tetap jumlahnya tersisa sedikit.
“Sampai sekarang, diperkirakan pedagang barang-barang elektronik mencapai 40 persen, sisanya 20 persen pedagang kuliner dan obat-obatan China. Beberapa daerah nama pertokoan yang berjualan barang, dari Glodok Pancoran, Glodok Plaza, Arion Plaza, HWI Glodok, Glodok Jaya, dan LTC Glodok,” paparnya.
Jacky mengatakan, dulu barang-barang yang dijual pedagang berasal dari Jepang atau Korea. Namun sejak 2005, barang-barang China membanjiri pasaran, para pedagang pun beralih ke barang-barang China. Beberapa barang yang dijual di Glodok, seperti komputer, alat musik, jam tangan, laptop, dan masih banyak yang lainnya.
“Sejak gencarnya produk China, pedagang banyak yang mengimpor langsung dari sana karena harga produk China lebih murah dan gampang dijual. Sedangkan, produk Jepang dan Korea mahal dan sulit dijual dan ternyata, barang-barang China memiliki bangsa pasar tersendiri," paparnya.
Ia menjelaskan, bicara masalah kualitas memang sangat variatif. Namun selama ini, jarang pembeli yang komplain. Terkait garansi yang akan didapatkan oleh pembeli, Jacky menukaskan, “Itu tidak jadi masalah bagi pembeli, yang penting bagi mereka adalah murah.”
Jakcy mengungkapkan, konsumen di Glodok juga sangat variatif; remaja, orangtua, bahkan sesama pedagang. Mereka yang bertandang ke pasar pun dari berbagai daerah, ada yang dari daerah sekitar lokasi pasar, luar kota, bahkan luar pulau.
Pemilik toko CMA Elektronik di Glodok, Ana (27), menuturkan bahwa sejujurnya seluruh barang elektronik yang dijualnya adalah produk China. Selain harganya murah, juga memiliki variasi model lebih menarik. Tampilan serta spare part-nya juga mudah dicari jika terjadi kerusakan. Tokonya sendiri menjual berbagai jenis barang, mulai Playstation, Play Vision Portable (PVP), hingga charger handphone dengan harga berkisar antara Rp200 ribu sampai jutaan rupiah.
Ada juga produk-produk dari Korea maupun Jepang, tetapi tergantung pesanan konsumen. Dia bahkan memeringatkan konsumen agar mewaspadai elektronik bermerk terkenal, yang mungkin tampilan luarnya saja adalah merek-merek dari Jepang maupun Korea, tetapi suku cadangnya tetap berasal dari pabrikan China.
(Fitri Yulianti)