PERSETERUAN dingin yang terjadi antara Peni Farnita dan Bernaldi Kadir Djemat (Aldi) karena tuduhan perselingkuhan dengan Zumi Zola dapat mengakibatkan imbas negatif. Perkembangan mental yang mengganggu sang buah hati menjadi salah satu hal yang dikhawatirkan.
Keberadaan orangtua bagi anak tidak hanya diakui sebagai sosok ayah dan ibu semata. Lebih dari itu, kedua orangtua merupakan figur yang menjadi panutan anak. Untuk itu, segala tindakan orangtua tentu akan menjadi sesuatu yang dicontoh buah hati. Karenanya, memberikan panutan positif di hadapan mereka merupakan sesuatu hal yang senantiasa perlu dikedepankan.
Pasangan Aldi-Peni, misalnya. Belakangan ini meruak kasus tuduhan perzinahan yang dilakukan Peni dengan artis Zumi Zola. Kasus yang merebak heboh di media tersebut mau tak mau berpengaruh bagi anak Aldi-Peni yakni Rayden (4).
Bukan tidak mungkin rasa malu hingga gangguan mental yang membuat tumbuh kembang sang anak pun menjadi ancaman nyata yang perlu diperhatikan. Hal itu seperti ditegaskan psikolog Efnie Indrianie dari Universitas Kristen Maranatha, Bandung.
“Pada umumnya anak-anak mengidentifikasi figur yang dekat dengan orangtua. Anak perempuan, misalnya biasa melihat ibunya dan untuk laki-laki biasanya melihat sosok ayahnya. Namun yang sering jadi problem adalah ketika melihat figur tersebut sosok yang mereka jadikan panutan justru memiliki imej negatif di mata masyarakat. Salah satu dampak psikologis yang dirasakan anak biasanya mereka jadi rendah diri,” tuturnya ketika berbincang dengan
okezone melalui sambungan telepon, baru-baru ini.
Alasan rendah diri, sambung Efnie, dikarenakan orang-orang yang dijadikan panutan justru memberikan contoh yang membuat mereka tidak bangga. Hal inilah yang menjadi dampak psikologi pada buah hati mereka ketika nantinya sang anak masuk ke dunia sekolah atau lingkungan teman-teman sebaya, misalnya di sekolah.
“Tentu saja ada omongan dari teman-teman atau label dari orang-orang di sekitarnya,” tandasnya.
Efnie menjelaskan, ketika sang anak pada akhirnya sudah menyadari figur orangtuanya seperti itu, secara
mentally tentu akan memengaruhi perkembangan mental si anak.
“Hal inilah yang bisa menjadi penghambat pengembangan potensi anak tersebut. Pasalnya, anak yang merasa rendah diri merasa konsep dirinya negatif, dan biasannya enggan untuk mengembangkan potensi pada dirinya. Secara otomatis, mereka pun tidak akan dapat memersiapkan masa depan dengan baik,” tutupnya.
(Tuty Ocktaviany)