TUBUH mini tak menjadi jaminan bahwa keturunan yang dihasilkan berukuran mini pula. Ada persentase yang sama dari orang normal dan bertubuh mini dalam memiliki keturunan secara normal.
Daus Mini dan Ucok Baba, misalnya. Meski tubuh mereka sangat mungil, namun keturunan yang dihasilkannya normal secara fisik. Hal ini menjadi bukti nyata jika keberadaan orangtua yang mungil pun dapat memiliki anak secara normal.
Menurut dr Arju Anita SPog, dokter ahli kandungan Rumah Sakit Hermina Depok, seseorang yang memiliki tubuh mungil dapat memiliki keturunan.
“Kehamilan adalah suatu proses yang dimulai dari bertemunya sperma dengan sel telur. Jadi, bukan ukuran tubuh atau ukuran kemaluan yang menjadi tumpuan kesuburan seseorang. Selama sperma yang dihasilkan laki-laki normal baik bentuk, gerakan, maupun kemampuan hidupnya, maka sperma laki-laki tersebut dapat membuahi sel telur wanita pada masa subur,” terangnya, seperti dilansir tabloid
Genie edisi 23.
Anak yang dilahirkan dari salah satu pasangan bertubuh kecil tidak otomatis kecil, tetapi tergantung pada kromosom dari kedua pasangan.
“Anak yang dilahirkan akan memiliki kromosom yang didapat dari ayah dan ibunya. Kemungkinan 50 persen : 50 persen. Ada berbagai kelainan yang manifestasinya secara awam terlihat seperti tubuh yang kerdil,” sambungnya.
Untuk ibunya sendiri, secara medis bisa melakukan persalinan dengan normal. Faktor kedua adalah faktor bayi dalam kandungan. Selama posisi bayi normal, tidak terdapat masalah dalam pertumbuhan bayi.
“Jadi, tidak bisa dihubungkan proses persalinan dengan ukuran tubuh sang ayah,” katanya.
Agar bayi yang dilahirkan sehat dan normal, orangtua harus memerhatikan tiga aspek penting yaitu kesehatan bayi dalam kandungan tergantung dari ibu saat hamil.
Pertama adalah faktor makanan. Di sini hal dasar yang harus diperhatikan adalah komposisi empat sehat lima sempurna. Kadang ibu merasa tidak nafsu makan sehingga tidak mau mengonsumsi makanan yang sehat. Kedua, faktor lingkungan. Hal ini meliputi masalah lingkungan yang sehat. Misalnya, hindari lingkungan banyak asap rokok dan lingkungan tempat bekerja yang kurang udara segar. Ketiga, istirahat yang cukup. Kebanyakan saat ini wanita banyak yang bekerja sehingga kurang waktu istirahat. Hal ini dapat mengganggu kekebalan tubuh sehingga tubuh mudah tertular infeksi,” tutupnya.
(Tuty Ocktaviany)