BANTEN - Bau amis khas laut segera saja menyeruak begitu tiba di daerah Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten. Kecamatan ini merupakan pemberhentian terakhir jalur darat untuk menuju ke Pulau Umang, Banten. Perjalanan dari Jakarta menuju Kecamatan Sumur, menghabiskan waktu tempuh hampir delapan jam.
Di sana, terdapat sebuah pelabuhan sederhana yang sengaja disediakan manajemen wisata Pulau Umang, untuk tempat transit kendaraan-kendaraan para tamu.
Pelabuhan tersebut bisa dijangkau dengan menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa bus. Tapi untuk yang tidak membawa kendaraan pribadi atau mobil sewa, bisa naik bus Antar-Kota Antar-Provinsi (AKAP) jurusan Kalideres-Labuan. Kemudian dilanjut dengan naik bis jurusan Labuan-Sumur.
Untuk bisa mencapai Pulau Umang, para tamu tidak bisa membawa serta kendaraan pribadinya. Kendaraan tersebut harus berhenti dan diparkir di lokasi pelabuhan dengan jaminan keamanan dari manajemen Pulau Umang.
Selanjutnya, para tamu akan diangkut menggunakan perahu speed boad dengan kapasitas enam orang, atau kapal besar, membelah lautan menuju Pulau Umang. Fasilitas penyeberangan menuju Pulau Umang dibuka selama 24 jam.
Bagi tamu yang sudah memesan penginapan di Pulau Umang, maka fasilitas ini termasuk parkir gratis, karena masuk satu paket. Sementara bagi tamu yang hanya berniat mengunjungi Pulau Umang dan belum memesan tempat penginapan, dikenakan biaya sebesar kurang lebih Rp100 ribu per kepala. Kalau kemudian mau menginap, maka biaya penginapan akan menjadi biaya tambahan tersendiri.
Sayang waktu penulis tiba, tempat malam hari sehingga pemandangan laut yang terhampar hanya kegelapan. Namun meski gelap, Pulau Umang tetap terlihat seperti lilin-lilin yang menyala di tengah laut, karena lampu-lampu terang yang menghiasi pulau ini.
Kurang lebih lima menit, Pulau Umang sudah dapat dipijak. Rasanya seperti keluar dari peradaban lama dan memasuki peradaban baru. Seseorang dari manajemen Pulau Umang telah menunggu dan mengantarkan tamu menuju lokasi penginapan.
Penginapan di Pulau Umang terdiri dari kamar-kamar besar berbahan material kayu, dengan kapasitas empat orang. Biaya penginapan untuk satu kamar sekira Rp4 juta. Di hari libur atau akhir minggu, penginapan ini bisa terisi hingga 90 persen. Sedangkan di hari-hari biasa, terisi sekira 50 persen atau dibawahnya.
(Fetra Hariandja)