Tari Saman, Refleksi Gerakan Salat & Dzikir

Gustia Martha Putri, Jurnalis
Kamis 24 November 2011 16:39 WIB
Tari Saman, refleksi gerakan salat dan dzikir (foto: deplu.go.id)
Share :

SEBUAH kebanggaan bagi bangsa Indonesia, karena Tari Saman, salah satu tarian tradisional dari Provinsi Aceh sudah resmi ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada hari Kamis, 24 November 2011 di Nusa Dua, Bali.

Tetapi mungkin belum banyak yang tahu bahwa Tari Saman ini dahulunya adalah salah satu cara berdakwah oleh seorang Syekh (pemimpin) di Aceh.

Asal kata Saman dari nama tarian ini diambil dari nama seorang ulama besar di Aceh bernama Syekh Saman. Pada awalnya, tarian karya Syekh Saman ini dimainkan oleh sekelompok laki-laki. Demikian segelintir sejarah Tari Saman yang disampaikan oleh Marzuki Hasan, seorang Guru Besar Tarian Aceh yang aktif mengajar di Fakultas Tari, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), saat dihubungi okezone melalui telepon genggamnya pada Kamis, (24/11/2011).

Menurut Marzuki, panggilan akrab beliau, karena tarian ini awalnya merupakan ajang menyebarkan dakwah, maka gerakan tarian Saman pun terinspirasi dari gerakan-gerakan salat.

"Mulai dari posisi duduk sebaris itu sama seperti shaf dalam salat yang harus rapi sebaris. Juga dengan gerakan-gerakannya, seperti ada yang duduk, kemudian merunduk seperti sedang bersujud, lalu bangun lagi, kepala dianggukkan ke kiri dan ke kanan itu juga sama seperti sedang berdzikir. Orang kan kalau khusyuk berdzikir, kepalanya digerakkan ke kiri dan ke kanan," terang Marzuki.

Bahkan, irama lagu yang mengiringi gerakan tarian Saman ini, bertempo dinamis memiliki makna sebagaimana layaknya orang yang sedang berdzikir, dari bertempo pelan hingga semakin lama semakin cepat.

"Lagunya sendiri pun yang semakin lama semakin cepat itu sama seperti orang yang sedang berdzikir. Kalau dzikir kan awalnya pelan dulu, semakin lama semakin cepat sembari menggoyang-goyangkan kepala ke kiri dan ke kanan," imbuhnya.

Tari Saman ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tak benda oleh UNESCO pada Sidang ke-6 Komite Antar-Pemerintah untuk Pelindungan Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Sidang ke-6 Unesco yang dihadiri kalangan LSM internasional, pakar budaya dan media telah berlangsung di Bali International Convention Centre (BICC) mulai 22-29 November 2011.

Indonesia dipercaya oleh 137 Negara Konvensi 2003 UNESCO untuk Pelindungan Warisan Budaya Takbenda untuk menjadi tuan rumah dan memimpin Sidang yang bergengsi ini.

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya