PERNIKAHAN menjadi tanda perpisahan orangtua untuk melepaskan tanggung jawab anak kepada menantunya. Dalam adat Komering yang digunakan Edhie Baskoro Yudhoyono dan Siti Ruby Aliya Rajasa pada akad nikah, makna ini dijalani lewat prosesi suap-suapan.
Menurut adat Palembang (Komering), upacara suap-suapan dan cacap-cacapan idealnya dilaksanakan di atas ranjang adat, tapi prosesi akad nikah Ibas-Aliya cukup duduk menggunakan kursi. Kasur adat atau papan pasangan merupakan simbol bahtera yang akan mengantarkan kedua mempelai menuju pulau harapan.
“Suap-suapan bermakna suapan terakhir dari orangtua dan sesepuh keluarga. Bukan berarti keluarga atau orangtua tidak mau lagi, tapi kalau selama ini tanggung jawab mulai dalam kandungan hingga besar dan diantarkan menuju pintu gerbang rumah tangga berada di tangan orangtua, maka dengan menikahkan, otomatis tanggung jawab berpindah ke suami,” terang Jujuk Burhanan, perias tradisional akad nikah Ibas-Aliya secara eksklusif kepada okezone yang menemuinya di Jalan Jasa Marga No. 2, Kelurahan Dukuh, Kramat Jati, Jakarta Timur, baru-baru ini.
Upacara adat suapan dilaksanakan oleh kaum ibu dalam jumlah yang ganjil, bisa 3, 5, 7, atau 9, yang terdiri dari ibu pengantin laki, ibu pengantin wanita, satu lagi bisa mewakili secara keseluruhan, baik tamu maupun keluarga. Menu suap-suapan adalah nasi kunyit ayam panggang.
Dalam menyuapkan, caranya adalah mengambil sejumput nasi kunyit panggang ayam, lalu disuapkan ke kedua mempelai. “Misalnya Ibu Okke, maka Mas Ibas dulu yang dia suapi, tapi hanya separuh lalu sisanya diberikan ke Mba Aliya. Ibu Ani juga begitu, separuh suapan ke Mba Aliya dulu baru ke Mas Ibas. Maknanya, supaya rezeki tidak terputus, kasih sayang ke anak dan menantu, sama. Untuk yang menyuapi satu lagi, dia netral, bebas mau menyuapi siapa dulu,” jelasnya.
Setelah itu, kedua mempelai diberi minum air putih. Warna putihnya air yang diminum sebagai simbol doa dan harapan seluruh keluarga besar dan orangtua. Air putih seperti sucinya hati orangtua yang tak lekang oleh masa. Derasnya air mengalir, diharapkan derasnya rejeki kedua mempelai.
Sementara, nasi kunyit ayam panggang masing-masing unsurnya memiliki makna tersendiri.
“Kuning lambang keagungan, ketan bersifat lengket yang diharapkan dengan pernikahan akan mengikat silaturahmi dua keluarga besar. Rasa gurih karena santan, kita tahu gurih sangat menyenangkan, enak. Kalau ayamnya sendiri seperti pepatah ayam kehilangan induknya. Induk ayam itu mengayomi, menyayangi, dan ayam adalah cikal bakal kehidupan yang akan memberikan keturunan,” ungkap wanita 62 tahun ini.
(Fitri Yulianti)