APA yang muncul di benak anda jika menyaksikan atraksi terjun payung di udara dan tarian tradisional di pantai saat senja menjelang? Menakjubkan!
Itulah jawaban beberapa pengunjung Anjungan Pantai Losari Minggu sore (11/9/2011), saat menyaksikan Tari Kolosal Pakarena yang dirangkaikan atraksi atlet terjun payung nasional dan internasional di permukaan laut antara Pantai Losari dan Pulau Lae-lae.
"Amazing, fantastic, Saya sangat menikmati tontonan ini. Saya melihat semua orang menikmatinya. Mereka terlihat gembira dan terhibur, "ujar Tarjo, seorang wisatawan asal Belanda yang datang khusus ke Makassar guna menyaksikan festival bahari ini.
Tarjo bersama Rob suaminya, datang ke Makassar dengan kapal pesiar milik mereka Taremaro. Sebelumnya mereka ke Maluku menikmati Sail Ambon yang digelar di sana.
"Sejak 2003 lalu, Saya dan suami melakukan perjalanan berkeliling dunia dengan kapal pesiar. Ini menyenangkan. Informasi tentang festival di Makassar kami perolah di internet. Makanya kami rencanakan ke Makassar tahun ini," tutur Tarjo dengan senyum lebar.
Tarjo berharap kegiatan ini dapat terulang lagi tahun depan. Tarjo dan Rob berencana tinggal di Makassar hingga 15/9/2011 nanti. Setelah itu mereka akan berkunjung ke Tana Toraja.
"Kami mendengar, pemandangan alam dan budaya di Toraja itu eksotik. Ini pertamakalinya kami ke Makassar dan Toraja, "tukasnya.
Tak hanya Tarjo dan Rob yang menikmati tontonan di Kota Anging Mammiri' ini. Janet dan Jimmy, pasangan suami istri asal Belanda pun terlihat sibuk memotret di tengah ribuan penonton di Pantai Losari.
Kepada Okezone, Janet mengaku tak mengetahui adanya kegiatan festival ini. Menurutnya, kunjungan ke Makassar kali ini hanya sehari semalam.
"Kami ke Makassar karena pekerjaan. Namun, saat tiba di sini, kami mendengar ada kegiatan ini. Menakjubkan, kegiatan yang menyenangkan untuk dinikmati. Apalagi para penari tradisional yang berada di atas perahu itu. Indah sekali gerakan perempuan penarinya, "tuturnya di tengah keriuhan bunyi Tunjung Pakanjara' (gendang khas Bugis Makassar), musik yang mengiringi Tari Pakkarena.
Pantauan Okezone, sekira 2500-an orang memadati anjungan Pantai Losari dan bibir pantai terkenal di Kota Anging Mammiri' itu. Pengunjung sebagian besar warga kota, namun banyak di antaranya adalah wisatawan asing dan domestik.
Seoerti Taufik (6), bocah warga Jl Rajawali Makassar. Taufik merengek kepada kedua orangtuanya. "Kenapa cepat sekali berhenti itu yang terjun Papa. Saya masih mau nonton, "teriaknya sambil berlinang air mata. Ayahnya Daeng Tiro hanya menenangkan putranya.
"Tadi dia yang memaksa datang ke sini. Taufik diberitahu teman sepermainannya kalau ada terjun payung di losari. Makanya Saya temani, "ujar Daeng Tiro.
Tahun 2011, Kota Makassar berulangtahun ke-404. Untuk itu digelar Festival Bahari dan Budaya yang dipusatkan di Pantai Losari.
Salah satu rangkaian kegiatannya, penyajian Tari Pakarena secara kolosal di atas Lepa-lepa (perahu kecil bercadik khas Bugis Makassar. Tari Pakarena merupakan tarian tradisional Makassar yang biasanya ditarikan empat hingga enam orang. Tapi kali ini oleh 150 orang dari mahasiswa Universitas Negeri Makassar.
Nah, Tari Pakarena lalu dipadukan dengan atraksi atlit terjun payung dengan klasifikasi ketepatan mendarat di air. Sebanyak 74 atlit terjun payung nasional dan internasional berpartisipasi dalam kegiatan ini. Dan, atraksi terjun payung jenis itu adalah pertamakalinya di dunia!
(Ferdinan)