ISLAM memang lahir dari negara Timur Tengah. Namun, desainer meyakini bahwa Indonesia harus menciptakan karakter busana muslim sendiri.
Ramadan menjadi momen berharga bagi para desainer busana muslim untuk memberikan alternatif bagi pencinta fesyen. Beragam kreasi cantik dengan bermacam nuansa mewarnai busana yang ditampilkan.
Satu kekuatan yang menjadi daya tawar desainer di antara serbuan busana muslim dari negara lain adalah karakter yang mencerminkan kekhasan Indonesia. Meskipun kenyataannya, busana muslim merupakan ajaran Islam yang lahir dari negara Arab.
"Desainer harus mengangkat budaya daerah. Banyak muatan lokal yang bisa di-
blend dengan busana muslim. Islam memang dari Timur Tengah, tapi kita harus punya karakter khas Indonesia," kata Taruna K Kusmayadi, Ketua Umum Pusat Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) kepada
okezone di sela
fashion show "Pasaraya Wajah Mode in Ramadhan" di Pasaraya, Blok M, Jakarta Selatan, Selasa (9/8/2011).
Pendapat senada disampaikan Ian Adrian, salah seorang anggota APPMI DKI Jakarta. Menurutnya, inspirasi busana muslim sah-sah saja diambil dari Timur Tengah, tapi napasnya tetap Indonesia.
"Perkawinan antara tradisi Indonesia dan Mesir, misalnya, enggak apa-apa. Kita tidak menciptakan ke-Timur Tengah-an ke Indonesia, tapi menciptakan busana muslim yang ke-Indonesia-an di Indonesia," tuturnya pada kesempatan yang sama.
Inilah alasannya, kata Ian, busana lebaran rancangannya tidak hanya menyajikan busana muslim lengkap dengan kerudung. Ian dan beberapa desainer yang berpartisipasi dalam "Wajah Mode in Ramadhan" oleh Pasaraya turut memamerkan busana
evening dan koktail.
"Muslim Indonesia memang mayoritas, tapi tidak semuanya berjilbab. Kita ingin kasih pilihan untuk mereka, bahwa misalnya, ada muslim di Eropa yang terbiasa memakai
dress," tandasnya.
(Tuty Ocktaviany)