Gaya Personal, Primadona Aksesori 2008

Tuty Ocktaviany, Jurnalis
Senin 22 Desember 2008 14:34 WIB
Foto: Tuty Ocktaviany/Okezone
Share :

NUANSA kebebasan tampaknya menyelimuti tahun 2008. Tidak semata tertuju pada gaya rambut pria ataupun wanita, tetapi ragam aksesori juga menjadi sorotan.

Citra personal yang menyelimuti ragam aksesori itu terpancar jelas dalam karya-karya desainer aksesori andalan di Nusantara. Sebut saja Rinaldy A Yunardi, Yongki Komaladi, atau Elizabeth Wahyu.

Mereka bertiga kompak memanfaatkan momen 2008 untuk mendulang karya-karya yang sangat spektakuler dan up to date. Tetapi sekali lagi bahwa kebebasan berkarya menjadi rumus utama mereka berkarya.

Menurut Rinaldy, rambu-rambu dalam berkarya, seperti arahan tren memang ada setiap tahun. Tapi setiap desainer punya kewenangan untuk tidak mengadopsinya secara apa adanya. Perlu disaring lagi.

Kecermatan dalam menyaring tren, yang memang bermuara dari luar negeri memang harus diperhatikan oleh masing-masing perancang. Pasalnya, tidak semua masyarakat di Indonesia menginginkan koleksi yang mirip atau menjadi duplikasi dari karya perancang dunia. Sebagian besar masyarakat di Tanah Air masih ingin tampil menarik dengan aksesori etnik ala Indonesia.

Fenomena tersebut tentu tidak membelenggu perancang dalam berkreativitas. Mereka pun setuju bahwa tren luar negeri bisa menjadi inspirasi berkarya dan kemudian disesuaikan lagi dengan kebutuhan market di negeri sendiri.

Karya dari Yongki Komalandi, misalnya. Meski kesan modern sangat kental, Yongki tetap mengakomodasi tren lokal. Dia pun memanfaatkan material bahan yang ada di Indonesia dan tidak harus berburu ke Hong Kong ataupun China. Menurutnya, selera setiap orang itu berbeda-beda. Oleh karena itu perancang tidak boleh egois, yang hanya mementingkan idealisme pribadi. Bagaimamapun bisnis tetap harus dijalankan dengan baik.

Termasuk dalam menentukan gaya aksesori yang ditawarkan kepada market, Rinaldy pun menerapkan prinsip fleksibel dan tidak kaku. Boleh saja di tahun 2008 gaya art deco tengah booming, tapi melihat market tetap ada yang menyukai gaya art nouveau dan victorian, Rinaldy pun mencoba mengakomodasi semua kebutuhan tersebut.

Menurut Rinaldy, tahun 2008 desainnya lebih simpel, yang dipertegas dengan model garis-garis berbentuk vertikal ataupun horizontal. Model ini jika diwujudkan bisa menyerupai kotak-kotak.

Kendati demikian, untuk market wanita mapan atau berumur pastilah tidak cocok dengan karakter tersebut. Mereka lebih suka dengan gaya art nouveau yang memperlihatkan bentuk-bentuk melengkung, dan victorian dengan lengkungan yang bercabang-cabang.

Mengenai aksesori pria, tampaknya tidak selengkap pada wanita. Bahkan kesan itu-itu saja pun masih kuat. Paling seputar cincin, ikat pinggang, ataupun kalung yang cocok dipakai mereka yang masih muda.

Menurut Elizabeth Wahyu, bisnis aksesori lebih menjanjikan jikalau pembelinya perempuan. Lagi pula untuk menggeluti bidang tertentu memang butuh kesiapan dan ketrampilan yang mumpuni. Sifat aji mumpung tak sedikit pun terlintas dalam pikirannya.

Menciptakan karakter maskulin memang tidak mudah. Setiap perancang perlu eksperimen berulang-ulang supaya hasilnya pun maksimal.

(Tuty Ocktaviany)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya