MEMILIKI rumah adalah dambaan setiap keluarga apalagi untuk yang baru saja menikah. Kalau tidak memiliki dana yang memadai, tidak ada salahnya mempertimbangkan membeli rumah bekas.
Membeli rumah bekas bisa dikatakan ibarat mencari jodoh. Membutuhkan waktu yang cukup lama, tapi kadang terasa agak mudah. Ketika membeli rumah bekas, sebaiknya tidak hanya tergiur tampilan luarnya, tapi juga harus mengetahui kondisi rumah tersebut secara keseluruhan. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari biaya perbaikan yang membengkak.
Beberapa keuntungan dari rumah bekas ini di antaranya mendapatkan lokasi yang baik, harga yang relatif lebih murah, dan ukuran lebih besar dibandingkan rumah baru di kawasan perumahan.
Menurut Principal Ray White Kelapa Gading David Tjandra, tren yang berkembang saat ini, masyarakat lebih suka membeli rumah bekas karena bisa langsung dihuni. Karena itulah, sebagian besar pembeli rumah bekas adalah keluarga muda. Khususnya yang baru menikah. "Mereka ingin langsung menempati rumah tersebut," sebutnya.
Sebagian masyarakat berpandangan, membeli rumah bekas juga lebih menjamin aktivitas sosial saat tinggal di kawasan perumahan. Karena biasanya, rumah bekas yang dijual terletak di kawasan hunian yang telah dipadati penduduk. Kondisi seperti itu terkadang tidak bisa dimiliki ketika membeli rumah baru.
Walaupun dikatakan sebagai rumah bekas, bukan berarti kualitasnya kalah dengan rumah baru. Karena kebanyakan sebelum dijual, pemilik terlebih dahulu memperbaiki rumahnya. Tentu tujuannya agar harga rumah yang hendak dijual tidak terlalu rendah.
Harga rumah bekas pun bervariasi, tergantung lokasi rumah. Di Kelapa Gading, misalnya, rata-rata harga rumah bekas yang ditawarkan lebih dari Rp1 miliar. Pasar rumah bekas di Kelapa Gading cukup baik karena masyarakat sudah mengenal seperti apa kualitas hunian di Kelapa Gading.
Presiden Direktur ERA Indonesia Darmadi Darmawangsa menjelaskan, sekitar 40 persen dari pembeli rumah bekas melalui perusahaannya adalah masyarakat yang membeli rumah yang kisaran harganya berkisar antara Rp200 juta hingga Rp300 juta. Sebesar 35 persen adalah rumah seharga Rp750 juta.
Sebagian besar masyarakat yang membeli rumah bekas seharga Rp200 juta hingga Rp750 juta mempergunakan fasilitas kredit bank untuk membeli rumah yang diinginkannya. Sementara yang membeli rumah di atas itu lebih banyak mempergunakan cara tunai.
Hingga Oktober lalu, rata-rata penjualan rumah bekas di tempatnya berkisar antara Rp500 miliar hingga Rp600 miliar. Walaupun pada November lalu mengalami penurunan hingga 15 persen, Darmadi optimistis pada 2009 mendatang penjualan rumah bekas akan kembali membaik.
Harga rumah bekas sangat tergantung pada lokasi dan kondisi bangunan. Jika di tengah kota dengan luas bangunan di bawah 100 meter persegi harganya sekitar Rp500 juta. Sementara jika rumahnya di atas 300 meter persegi dan memiliki kelengkapan sarana seperti kolam renang dan halaman parkir yang luas, dipastikan dapat mencapai lebih dari Rp1 miliar.
Apalagi, menurut dia, pada saat ini menjual rumah bekas relatif lebih mudah daripada menjual rumah baru. Kenaikan harga rumah bekas tidak setinggi rumah baru karena bentuk fisiknya sudah ada. Dengan begitu tidak banyak mengeluarkan dana untuk memperbaiki fisik rumah.
Untuk mengajukan kredit (KPR), rumah bekas lebih mudah. Ini karena bank sudah melihat fisik bangunan rumah yang akan dibiayai. Dengan begitu, bank tidak perlu khawatir pembangunan rumah yang penjualannya dibiayai akan terbengkalai akibat pengembang tidak memiliki uang tunai.
Bagi yang bekerja di Jakarta, biasanya peminat rumah bekas akan memilih rumah yang berlokasi di tengah kota. Namun, banyak pula yang masih berminat untuk membeli rumah bekas di daerah Tangerang, yakni Karawaci dan Serpong. Hal itu sangat tergantung pada kebutuhan masyarakat dalam membeli rumah bekas tersebut.
Sementara member Broker Century 21 Pertiwi, Ali Hanafia Lijaya, mengatakan, penjualan rumah bekas pada akhir tahun ini ada kecenderungan mengalami penurunan. Hal itu terjadi pada dua sisi, yakni penawaran dan permintaan. "Pemilik rumah bekas sepertinya menahan sementara penjualan rumahnya. Sambil menunggu situasi ekonomi membaik," ucapnya.
Dari sisi permintaan, kondisi tersebut terjadi karena beberapa variabel. Di antaranya tingkat suku bunga KPR yang tinggi sehingga masyarakat memilih menunggu hingga tingkat suku bunga turun kembali. Masyarakat khawatir tingkat suku bunga yang tinggi menambah beban pengeluaran rutin. Padahal pada saat ini, tengah terjadi penurunan daya beli.
Hampir semua wilayah di Jakarta menjadi tempat incaran masyarakat dalam memilih rumah bekas. Untuk Jakarta Barat, Puri Indah, Taman Permata Buana, Kedoya dan Daan Mogot, merupakan beberapa daerah yang rumah bekasnya cukup diminati masyarakat. Jakarta Selatan di antaranya Permata Hijau, Pondok Indah, Kebayoran Baru dan Senopati. Di Jakarta Utara, Kelapa Gading dan sebagian wilayah Sunter. Di Jakarta Pusat yakni kawasan Menteng.
Sebagian besar masyarakat lebih suka membeli rumah bekas tanpa melalui perantara. Sebesar 30 persen hingga 40 persen di antaranya mempergunakan jasa agen atau broker properti dalam mencari rumah bekas idamannya.
(Tuty Ocktaviany)