TUKSEDO memang diciptakan bagi kaum pria, tapi bukan berarti wanita tidak bisa memakainya. Malah, busana maskulin ini bisa menonjolkan aura feminin sekaligus sensual.
Jika Anda melihat para selebriti berjalan di atas
red carpet, ada satu kesimpulan yang bisa ditarik. Para pria melangkah gagah dengan menggunakan tuksedo maupun setelan jas formal, sementara wanitanya tampil anggun berbalut gaun malam indah besutan desainer kenamaan. Tapi, kini tuksedo bukan hanya milik pria. Wanita pun mulai banyak yang meliriknya sebagai alternatif berbusana. Bahkan, mereka bisa tampil lebih atraktif dengan menggunakan setelan maskulin ini.
Menyeberangnya tuksedo dari "seragam" formal pria menjadi busana feminin para wanita dibuktikan di parade karpet merah
27th Hong Kong Film Award. Para selebriti Asia tidak lagi mengacu pada cara berpakaian
gliteratti Barat yang gemar mengenakan gaun glamor, sebaliknya mereka memilih setelan maskulin yang justru menghadirkan kesan seksi.
Joyce Cheng misalnya. Berbeda dengan aktris-aktris lainnya, Cheng justru memilih tampilan maskulin dengan mengenakan busana
three pieces,
tank top hitam berdetail
lace,
palazzo hitam, serta
tailored blazer putih. Untuk mempermanis penampilannya, Cheng menambahkan gelang batu serta bros dalam warna hitam.
Dua aktris lainnya, yakni Zhao Wei serta Sammi Cheng pun tidak ketinggalan mengenakan setelan jas ala pria. Tuksedo lengkap dengan dasi kupu-kupu dan arloji maskulin menjadi pilihan Sammi Cheng, sementara Zhao Wei yang kariernya mencuat berkat serial Putri Huang Zhu memilih tampilan semi-maskulin dengan menggunakan
overcoat panjang dan kemeja dalam palet putih.
Tidak hanya menetap di Hong Kong, demam tuksedo pun menyeberang ke Indonesia. Para desainer jeli menangkap celah tersebut, namun tidak langsung mengadaptasinya secara mentah, perancang Indonesia justru menerapkannya di atas gaun. Menghadirkan kesan maskulin sekaligus feminin di saat yang bersamaan.
Salah satu desainer yang mengaplikasikan hal tersebut adalah Ichwan Toha. Perancang muda yang menawarkan
line-nya melalui butik kompilasi Fashion First @ Senayan City ini menampilkan koleksi
edgy, perpaduan sempurna garis-garis maskulin tuksedo pria dengan rancangan feminin busana wanita.
"Bagi saya
fashion itu
adventure, ekspresi diri yang ditunjukkan lewat penampilan," ujar desainer
dandy ini. Dia kerap menunjukkan hal itu dalam karakter rancangan
androgyny. Tak jarang unsure-unsur feminin busana wanita muncul di ragam rancang koleksi pria begitu juga sebaliknya.
Bila kemeja pria tampil lebih "manis" dengan detail
ruffles, frills, atau lipit, gaun wanita justru hadir lebih gagah dengan tambahan
bow tie atau opnaisel yang disarikan dari kemeja padanan tuksedo.
Tidak jauh berbeda dengan koleksi milik Adesagi. Desainer yang ikut berpartisipasi dalam ajang
Islamic Fashion Festival V di Ballroom Hotel Dharmawangsa ini juga mengaplikasikan garis tuksedo di atas gaun. Namun, dia mengemas aksen maskulin tersebut dalam bentukan feminin. Dasi kupu-kupu dibuat berderet di bagian depan menjadi aksen manis, mengimbangi garis tegas yang mendominasi rancangannya.
Di beberapa koleksi
vest, jas, bahkan
cummerbund tampak melebur manis bersama rok-rok bervolume maupun
cocktail dress berbahan satin. Lainnya celana
pallazo menjadi padanan kemeja bergaris tegas dalam
cutting tajam bersudut.
Pilihan warna yang digunakan para desainer ini pun lebih mengarah pada karakter maskulin. Hitam mendominasi, ditemani serangkaian palet
solid, layaknya merah, abu-abu, atau bahkan warna-warna logam. Sebagai penyeimbang hadir putih, yang menjadi warna klasik busana pria.
(Tuty Ocktaviany)