Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ada Tradisi Kawin Lari, Ini Fakta Menarik Desa Sade yang Bikin Penasaran

Agustina Wulandari , Jurnalis-Minggu, 30 Agustus 2026 |12:05 WIB
Ada Tradisi Kawin Lari, Ini Fakta Menarik Desa Sade yang Bikin Penasaran
Desa Sade. (Foto: dok Indonesia Travel)
A
A
A

JAKARTA - Kebakaran di Desa Adat Sade Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terjadi pada Sabtu (22/8/2026) malam tentu menyisakan kepedihan bagi para suku Sasak, warga asli Desa Sade.

Sebagian besar rumah adat di kawasan Sade menggunakan bahan yang mudah terbakar, seperti kayu dan bambu. Hal ini membuat api berkobar dengan cepat dan menghanguskan ratusan rumah di lokasi. 

Desa Adat Sade menjadi wisata budaya yang sering dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Mengutip Indonesia Travel Kementerian Pariwisata, dalam bahasa suku Sasak, sade berarti obat atau kesadaran.

Kehidupan masyarakat Sade juga tidak terlepas dari ajaran Islam. Berbagai urusan sosial, termasuk pernikahan, biasanya diselesaikan di masjid atau Baruga Sekenam yang berada di sebelah kiri pintu masuk kawasan rumah adat.

Tradisi Kawin Lari yang Unik

Salah satu tradisi yang cukup menarik perhatian di Desa Sade adalah kawin lari. Dalam tradisi ini, seorang pria yang ingin menikahi perempuan yang dipilihnya harus membawa atau menyembunyikan perempuan tersebut dari keluarganya.

Lama waktu perempuan itu disembunyikan tidak memiliki batas tertentu. Bisa berlangsung selama beberapa hari, bahkan hingga berbulan-bulan.

Setelah waktunya dianggap tepat, pihak pria akan mengutus seseorang untuk mendatangi keluarga perempuan. Utusan tersebut akan memberitahukan keberadaan sang perempuan sekaligus membicarakan rencana lamaran dan pernikahan.

Setelah kedua keluarga mencapai kesepakatan, proses lamaran dan pernikahan pun dapat dilanjutkan.

Melihat Kehidupan Masyarakat Desa Sade

Berkunjung ke Desa Sade tentunya memberikan pengalaman berbeda. Di kawasan ini terdapat sekitar 150 rumah adat. Bentuk rumahnya cukup khas, terutama pada bagian atap yang menyerupai gunung dan dibuat menggunakan alang-alang.

Dinding serta lantainya dibuat dari tanah liat yang dicampur dengan dedak padi. Bagian luarnya kemudian dilapisi anyaman bambu. Rumah tradisional tersebut dikenal dengan nama Bale Tani Gunung Ratu, yang berarti rumah berbentuk seperti gunung dengan bagian dasar yang datar.

Menariknya, rumah-rumah di Desa Sade bukan sekadar bangunan untuk dipamerkan kepada wisatawan. Rumah tersebut benar-benar digunakan sebagai tempat tinggal oleh masyarakat setempat.

Sekitar 750 orang tinggal di kawasan ini dan sebagian besar masih memiliki hubungan garis keturunan atau berasal dari keluarga yang sama.

Lantai Rumah Dilapisi Kotoran Sapi atau Kerbau

Lantai rumah ada di Desa Sade secara berkala dilapisi menggunakan kotoran sapi atau kerbau. Bagi masyarakat setempat, cara ini bukan sekadar kebiasaan tanpa alasan. Kotoran sapi atau kerbau digunakan untuk membantu menjaga lantai agar tetap bersih dari debu, membuat permukaan lantai lebih kuat, sekaligus membantu mencegah serangga masuk ke dalam rumah.

Belajar Menenun Sejak Kecil

Menenun Desa Sade
Menenun di Desa Sade. (Foto: dok Indonesia Travel)

Selain rumah adat, tradisi menenun juga menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Sade.

Bagi perempuan suku Sasak, kemampuan menenun atau tenun sudah diperkenalkan sejak usia dini. Keterampilan ini menjadi salah satu cara masyarakat setempat menjaga dan meneruskan budaya Sasak dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kain tenun tradisional Lombok yang dibuat masyarakat setempat memiliki harga yang beragam, mulai dari sekitar Rp50.000 hingga Rp400.000 per lembar.

Tak hanya kain tenun, pengunjung juga bisa menemukan berbagai souvenir khas Lombok yang dibuat langsung oleh masyarakat Sasak, seperti gantungan kunci dan beragam aksesori.

Cara Menuju Desa Sade

Desa Sade cukup mudah dijangkau dari sejumlah titik di Lombok. Jika berangkat dari pusat Kota Mataram, perjalanan membutuhkan waktu sekitar satu hingga 1,5 jam.

Sementara itu, jika berangkat dari Bandara Internasional Lombok, waktu tempuhnya sekitar 25 hingga 30 menit.

Sayangnya, belum tersedia transportasi umum yang bisa mengantarkan pengunjung langsung ke Desa Sade. Karena itu, wisatawan bisa menyewa mobil atau sepeda motor untuk menuju desa wisata ini.

(Agustina Wulandari )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement