Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

10 Penyebab Penis Susah Berdiri Padahal Usia Masih 20-an

Tim Okezone , Jurnalis-Kamis, 20 Agustus 2026 |02:05 WIB
10 Penyebab Penis Susah Berdiri Padahal Usia Masih 20-an
10 Penyebab Penis Susah Berdiri Padahal Usia Masih 20-an (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA — Mengalami kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi di usia 20-an bukan berarti seorang pria pasti memiliki masalah serius. Namun, kondisi ini juga sebaiknya tidak terus dianggap sepele, terutama jika terjadi berulang dan mulai mengganggu kehidupan seksual.

Melansir laman Hims, Disfungsi ereksi (DE) dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Selain kondisi fisik, faktor psikologis dan kebiasaan sehari-hari juga dapat berperan. Ereksi sendiri merupakan proses yang melibatkan otak, hormon, saraf, pembuluh darah, serta jaringan di sekitar penis. Gangguan pada salah satu bagian tersebut dapat memengaruhi kemampuan penis untuk ereksi.

Berikut 10 kemungkinan penyebab penis sulit ereksi meski usia masih 20-an

1. Tekanan Darah Tinggi

Ereksi membutuhkan aliran darah yang baik menuju penis. Tekanan darah tinggi yang berlangsung dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah sehingga aliran darah ke jaringan penis menjadi kurang optimal.

Hipertensi juga berkaitan dengan berbagai masalah kardiovaskular yang dapat memengaruhi fungsi seksual. Karena itu, disfungsi ereksi pada pria muda terkadang dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan pembuluh darah yang belum terdeteksi.

Selain itu, tekanan darah tinggi juga dapat berkaitan dengan perubahan kadar hormon yang berperan dalam gairah dan fungsi seksual.

2. Obesitas

Kelebihan berat badan dan obesitas juga dapat meningkatkan risiko mengalami gangguan ereksi. Kondisi tersebut berkaitan dengan sejumlah masalah kesehatan, termasuk penyakit jantung dan gangguan metabolisme yang dapat memengaruhi aliran darah.

Obesitas juga dapat berhubungan dengan kadar testosteron yang rendah. Padahal, testosteron memiliki peran dalam gairah seksual dan fungsi reproduksi pria.

Menjaga berat badan tetap sehat melalui pola makan seimbang dan aktivitas fisik dapat menjadi salah satu langkah untuk mendukung kesehatan seksual.

3. Diabetes

Diabetes tidak hanya memengaruhi kadar gula darah, tetapi juga dapat berdampak pada pembuluh darah dan sistem saraf.

Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah sehingga suplai darah ke penis terganggu. Diabetes juga dapat memengaruhi saraf yang berperan dalam respons seksual.

Karena itu, pria muda yang mengalami gangguan ereksi dan memiliki faktor risiko diabetes sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis untuk mengetahui apakah kedua kondisi tersebut saling berkaitan.

4. Konsumsi Alkohol Berlebihan

Alkohol dapat memengaruhi kemampuan pria untuk mendapatkan atau mempertahankan ereksi, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Dalam jangka pendek, terlalu banyak alkohol dapat mengganggu kerja sistem saraf dan menurunkan respons seksual. Sementara konsumsi berlebihan dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan secara keseluruhan dan meningkatkan risiko gangguan seksual.

Karena itu, membatasi konsumsi alkohol dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga kesehatan seksual sekaligus kesehatan tubuh secara umum.

5. Penggunaan Obat-obatan Terlarang

Penggunaan zat atau obat-obatan terlarang juga dapat memengaruhi fungsi seksual. Beberapa jenis zat dapat mengganggu sistem saraf, aliran darah, maupun respons tubuh terhadap rangsangan seksual.

Sejumlah laporan medis menemukan adanya hubungan antara penyalahgunaan zat tertentu dan gangguan seksual, termasuk disfungsi ereksi.

Jika kesulitan ereksi muncul bersamaan dengan penggunaan zat tertentu, penting untuk menyampaikannya secara jujur kepada tenaga medis agar penyebabnya dapat dievaluasi dengan tepat.

6. Kebiasaan Merokok

Merokok dapat merusak kesehatan pembuluh darah dan sistem kardiovaskular. Padahal, aliran darah yang sehat merupakan salah satu faktor penting untuk menghasilkan ereksi.

Nikotin juga dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Dalam jangka panjang, paparan zat kimia dari rokok dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan pembuluh darah yang pada akhirnya turut memengaruhi fungsi seksual.

Karena itu, berhenti merokok bukan hanya bermanfaat bagi paru-paru, tetapi juga dapat membantu menjaga kesehatan pembuluh darah dan fungsi ereksi.

7. Kecemasan terhadap Performa Seksual

Tidak semua penyebab disfungsi ereksi berkaitan dengan kondisi fisik. Faktor psikologis, termasuk kecemasan terhadap performa seksual, cukup sering dialami pria muda.

Rasa takut tidak mampu memuaskan pasangan, terlalu memikirkan performa, khawatir kehilangan ereksi, atau merasa tidak percaya diri dapat membuat tubuh berada dalam kondisi tegang.

Kecemasan tersebut justru dapat mengganggu proses seksual dan membuat ereksi sulit dipertahankan. Masalah ini kemudian dapat membentuk siklus: pengalaman gagal menyebabkan kecemasan, sementara kecemasan meningkatkan kemungkinan mengalami kesulitan ereksi pada kesempatan berikutnya.

8. Masalah Saat Menggunakan Kondom

Sebagian pria dapat kehilangan ereksi ketika memasang atau menggunakan kondom. Kondisi ini dikenal sebagai condom-associated erection problems (CAEP).

Masalah tersebut dapat muncul karena kurang terbiasa menggunakan kondom, merasa cemas ketika memasangnya, ukuran kondom yang tidak sesuai, atau berkurangnya rangsangan seksual saat kondom digunakan.

Pada pria muda, kondisi ini bukan sesuatu yang jarang terjadi. Penggunaan kondom yang tepat dan memilih ukuran yang sesuai dapat membantu mengurangi kemungkinan munculnya masalah tersebut.

9. Penggunaan Pornografi Berlebihan

Hubungan antara pornografi dan disfungsi ereksi masih menjadi topik yang terus diteliti. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pola penggunaan pornografi tertentu mungkin berkaitan dengan perubahan respons terhadap rangsangan seksual pada sebagian orang.

Jika seseorang terbiasa mendapatkan rangsangan seksual dengan pola tertentu dari pornografi, pengalaman seksual bersama pasangan mungkin terasa berbeda. Pada sebagian pria, hal tersebut dapat berkontribusi terhadap kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi.

Namun, hubungan ini tidak dapat dianggap sebagai penyebab tunggal disfungsi ereksi. Faktor lain tetap perlu dipertimbangkan.

10. Kurang Tidur atau Gangguan Tidur

Kualitas tidur juga memiliki kaitan dengan kesehatan seksual. Kurang tidur dapat memengaruhi hormon, meningkatkan stres, serta menurunkan energi dan fungsi tubuh secara keseluruhan.

Gangguan tidur seperti apnea tidur juga telah dikaitkan dengan disfungsi ereksi. Kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan pernapasan ketika tidur dan menurunkan kadar oksigen pada malam hari.

Menerapkan jadwal tidur yang teratur, mengurangi paparan layar sebelum tidur, serta menciptakan lingkungan tidur yang nyaman dapat membantu meningkatkan kualitas istirahat.

Cara Mengatasi Penis Sulit Ereksi di Usia 20-an

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mencari tahu penyebabnya. Jika gangguan ereksi terjadi berulang, konsultasi dengan dokter dapat membantu menentukan apakah masalah tersebut berkaitan dengan kondisi fisik, obat-obatan, gaya hidup, atau faktor psikologis.

Dokter dapat melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan tambahan jika diperlukan. Kondisi seperti diabetes, hipertensi, gangguan hormon, atau masalah pembuluh darah dapat dievaluasi untuk mengetahui kemungkinan hubungannya dengan gangguan ereksi.

Perubahan gaya hidup juga dapat membantu menjaga fungsi seksual. Beberapa di antaranya adalah menjaga berat badan, rutin berolahraga, berhenti merokok, membatasi alkohol, tidur cukup, serta menghindari penggunaan obat-obatan terlarang.

Jika faktor psikologis menjadi pemicu, konseling atau terapi seksual dapat membantu mengatasi kecemasan performa, stres, maupun masalah kepercayaan diri. Komunikasi terbuka dengan pasangan juga dapat membantu mengurangi tekanan saat berhubungan seksual.

Pada kondisi tertentu, dokter mungkin mempertimbangkan obat untuk disfungsi ereksi. Obat seperti sildenafil atau tadalafil termasuk golongan penghambat PDE5 yang bekerja dengan membantu meningkatkan aliran darah ke penis. Penggunaan obat tersebut sebaiknya dilakukan berdasarkan anjuran tenaga medis.

Jadi, usia 20-an bukan jaminan seseorang terbebas dari masalah ereksi. Jika penis sering sulit ereksi atau ereksi tidak bertahan cukup lama, kondisi tersebut layak diperiksa untuk mengetahui penyebabnya. Semakin cepat faktor pemicunya diketahui, semakin tepat pula langkah penanganannya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement