JAKARTA – Banyak orang menganggap hubungan seks yang berlangsung lama identik dengan kepuasan. Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa durasi bukanlah faktor utama yang menentukan kualitas hubungan intim. Yang lebih penting adalah kenyamanan, komunikasi, dan kepuasan kedua pasangan.
Lantas, berapa sebenarnya durasi seks yang dianggap ideal menurut penelitian dan para ahli?
Sebuah penelitian yang melibatkan pasangan heteroseksual dari lima negara menemukan bahwa hubungan seksual dengan penetrasi vagina berlangsung rata-rata sekitar 5,4 menit sebelum pria mengalami ejakulasi, demikian dilansir dari laman Mindbodygreen.
Sementara itu, survei terhadap terapis seks menyebut durasi hubungan seksual antara 3 hingga 13 menit masih tergolong normal. Adapun perempuan rata-rata membutuhkan waktu sekitar 13 menit untuk mencapai orgasme saat berhubungan intim dengan pasangan pria. Namun, orgasme tersebut umumnya tidak hanya bergantung pada penetrasi, melainkan juga stimulasi lainnya.
Penelitian lain juga menunjukkan sesi pemanasan (foreplay) biasanya berlangsung sekitar 11–13 menit, sedangkan hubungan seksual berlangsung rata-rata sekitar 7 menit.
Jawabannya belum tentu.
Menurut survei terhadap para terapis seks, durasi penetrasi selama 7 hingga 13 menit dinilai sebagai rentang yang paling ideal.
Sebaliknya:
Meski demikian, preferensi setiap orang berbeda. Sebagian pasangan merasa puas dengan durasi yang singkat, sementara yang lain menginginkan waktu yang lebih lama. Tidak ada standar baku yang berlaku untuk semua orang.
Beberapa faktor dapat memengaruhi lamanya hubungan intim, di antaranya:
1. Usia
Seiring bertambahnya usia, perubahan hormon dan kondisi tubuh dapat memengaruhi gairah, kemampuan ereksi, hingga waktu yang dibutuhkan untuk mencapai orgasme.
2. Kondisi kesehatan
Gangguan seperti disfungsi ereksi, ejakulasi dini, atau kesulitan mencapai orgasme dapat membuat hubungan intim berlangsung lebih singkat maupun lebih lama.
3. Tingkat gairah
Semakin tinggi tingkat rangsangan sebelum penetrasi, biasanya semakin mudah seseorang mencapai orgasme. Sebaliknya, kurangnya pemanasan dapat membuat hubungan intim terasa kurang memuaskan.
4. Alkohol dan obat-obatan
Konsumsi alkohol maupun zat tertentu dapat memengaruhi fungsi seksual, mulai dari kesulitan mempertahankan ereksi hingga menghambat orgasme.
5. Faktor psikologis
Kenyamanan dengan pasangan, kondisi emosional, tingkat stres, hingga kualitas hubungan juga berpengaruh terhadap pengalaman seksual.
Para ahli mengingatkan bahwa hubungan seksual tidak harus selesai ketika pria mengalami ejakulasi.
Aktivitas seksual masih dapat berlanjut melalui sentuhan, stimulasi oral, maupun bentuk keintiman lainnya hingga kedua pasangan merasa puas. Karena itu, banyak ahli menilai kualitas hubungan intim lebih penting daripada sekadar menghitung durasi penetrasi.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.