Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Ubur-ubur Api, Kenapa Bisa Menyerang Manusia?

Agustina Wulandari , Jurnalis-Rabu, 08 Juli 2026 |15:05 WIB
Mengenal Ubur-ubur Api, Kenapa Bisa Menyerang Manusia?
Ilustrasi ubur-ubur api. (Foto: dok Freepik/wirestock)
A
A
A

JAKARTA - Peristiwa ubur-ubur menyengat lebih dari 40 orang di Pantai Bantul tentu saja mendapat sorotan dari netizen. Dari 40 orang tersebut, sebagian besar yang disengat ubur-ubur adalah anak-anak. Memang kini sedang masuk musim ubur-ubur, sehingga pemerintah setempat mengimbau para wisatawan untuk berhati-hati pada ubur-ubur api ini.

Lalu, apa itu ubur-ubur api? Yuk, bahas lebih dalam tentang ubur-ubur api. 

Ubur-ubur api punya warna yang estetis. Namun di balik penampilannya yang cantik, tersimpan sengatan yang siap menyerang siapapun.

Kapan Ubur-ubur Api Menyerang?

Ubur-ubur api sebenarnya tak pernah sengaja menyerang manusia. Mereka bahkan tidak memiliki kemampuan berenang yang aktif untuk mengejar mangsa.

Hewan yang memiliki nama ilmiah Physalia ini bergerak hanya dengan mengandalkan embusan angin dan arus laut. Gelembung biru di atas tubuhnya berfungsi seperti layar perahu. Jadi, ketika mereka menyengat manusia, itu murni karena manusia yang tidak sengaja menabrak atau menyentuh tentakel mereka yang sangat panjang di dalam air.

Peneliti dari Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sering memberikan edukasi bahwa fenomena terdamparnya ubur-ubur api di pesisir selatan Indonesia (seperti Pantai Parangtritis atau Gunungkidul) sangat dipengaruhi oleh musim.

Puncak Kemunculan biasanya terjadi pada rentang bulan Juli hingga September. Penyebabnya pada bulan-bulan tersebut terjadi fenomena angin timuran (angin dingin dari Australia) dan penurunan suhu permukaan laut. Angin dan gelombang laut yang kuat inilah yang membawa ubur-ubur api ke area pantai hingga akhirnya terdampar di pasir.

Risiko dan Bahaya Tersengat Ubur-ubur Api

Tentakel ubur-ubur api dipenuhi oleh ribuan sel penyengat bernama nematosista. Sel ini berfungsi seperti jarum suntik mikroskopis yang akan menembakkan racun begitu bersentuhan dengan kulit.

Berdasarkan literatur medis dan riset toksikologi laut, berikut adalah beberapa risiko jika kamu terkena sengatannya:

  • Kulit akan terasa seperti disundut api atau tersiram air panas.
  • Muncul ruam merah atau garis-garis melepuh pada kulit yang mirip dengan bekas pecutan cambuk.
  • Pada anak-anak, orang lanjut usia, atau individu yang memiliki alergi, racun ini bisa memicu reaksi berlebihan. Gejalanya meliputi mual, muntah, pusing, sesak napas, hingga syok anafilaksis yang mengancam nyawa.

Tips Cegah dan Mengobati Sengatan Ubur-ubur Api

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Jika kamu berencana liburan ke pantai, perhatikan beberapa langkah pencegahan berikut:

  • Patuhi Rambu Pantai: Jika ada papan peringatan atau petugas pantai (seperti Tim SAR) yang mengumumkan sedang musim ubur-ubur, sebaiknya tunda dulu niat untuk berenang.
  • Gunakan Pakaian Renang Tertutup: Memakai rash guard atau pakaian renang lengan panjang bisa memberikan lapisan pelindung ekstra antara kulit dan tentakel ubur-ubur.
  • Jangan Sentuh Meski Sudah Mati: Ubur-ubur api yang terdampar dan terlihat mengering di atas pasir masih bisa menyengat. Sel penyengat mereka tetap aktif meskipun hewannya sudah mati berhari-hari.

Sebuah riset medis dalam Medical Journal of Australia menyarankan protokol berikut untuk sengatan ubur-ubur api (Physalia):

  • Bilas dengan Air Laut: Jangan pernah menggunakan air tawar atau air mineral! Air tawar justru akan memicu sel penyengat yang menempel di kulit untuk melepaskan lebih banyak racun.
  • Cabut Tentakel dengan Hati-hati: Jangan digosok dengan tangan kosong. Gunakan pinset, batang kayu kecil, atau sarung tangan untuk mengangkat sisa tentakel dari kulit.
  • Rendam Air Hangat: Rendam atau kompres area yang tersengat dengan air hangat (sekitar suhu 45°C) selama 20 menit. Suhu panas terbukti efektif menonaktifkan racun protein dari ubur-ubur api dan meredakan nyeri jauh lebih baik daripada es.
  • Hindari Cuka: Berbeda dengan sengatan ubur-ubur kotak (Box Jellyfish), menyiram cuka ke sengatan ubur-ubur api justru berisiko membuat racunnya makin menyebar.
  • Cari Pertolongan Medis: Jika korban mengalami sesak napas, nyeri dada, atau sengatan berada di area sensitif seperti wajah dan leher, segera bawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.

Liburan ke pantai memang menyenangkan, tetapi tetap harus bertamu dengan sopan di alam liar. Tetap waspada dan jangan biarkan si biru kecil ini merusak hari liburmu!

(Agustina Wulandari )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement