JAKARTA – Merebaknya kasus virus Nipah di India mendorong sejumlah bandara di kawasan Asia memperketat pemeriksaan terhadap para pelancong. Langkah ini dilakukan sebagai upaya antisipasi penyebaran virus mematikan tersebut, dengan mekanisme yang menyerupai protokol pemeriksaan saat pandemi COVID-19.
Di Thailand, otoritas kesehatan mulai memberlakukan titik pemeriksaan khusus bagi penumpang yang datang dari wilayah terdampak. Informasi tersebut disampaikan pemerintah melalui unggahan resmi di platform X. Selain itu, pengelola bandara juga meningkatkan frekuensi dan intensitas pembersihan di area-area publik guna memastikan keselamatan penumpang dan petugas.
Kementerian Pariwisata Thailand menegaskan hingga 27 Januari belum ditemukan satu pun kasus virus Nipah di negara tersebut. Pemerintah memastikan seluruh bandara internasional telah menerapkan prosedur pencegahan yang ketat demi melindungi kesehatan masyarakat sekaligus menjaga kepercayaan wisatawan, demikian dilansir dari People, Selasa (3/2/2026).
Prosedur pemeriksaan yang diterapkan meliputi pengecekan suhu tubuh, penelusuran riwayat kesehatan dan perjalanan, serta pemantauan epidemiologi. Penumpang yang dicurigai terinfeksi akan segera diisolasi dan dirujuk ke fasilitas kesehatan sesuai dengan ketentuan Peraturan Kesehatan Internasional.
Langkah pengawasan ini diberlakukan di sejumlah bandara utama, antara lain Bandara Internasional Phuket, Bandara Suvarnabhumi, dan Bandara Don Mueang di Bangkok. Kebijakan tersebut diambil setelah dua perawat di sebuah rumah sakit swasta di Kolkata, Benggala Barat, India, dipastikan terinfeksi virus Nipah.
Seorang pejabat kesehatan senior yang terlibat dalam pengawasan kasus Nipah di Benggala Barat menyebutkan bahwa sumber penularan paling mungkin berasal dari seorang pasien yang sebelumnya dirawat di rumah sakit yang sama. Pasien tersebut kini diperlakukan sebagai kasus indeks yang masih dalam tahap investigasi.
Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang berasal dari kelelawar buah. Namun, berdasarkan keterangan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), virus ini juga dapat menular ke hewan lain serta menyebar antarmanusia. Tingkat fatalitasnya tergolong tinggi, dengan angka kematian mencapai 40 hingga 70 persen dari total kasus.
Penularan umumnya terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau konsumsi buah yang terkontaminasi. Gejala biasanya muncul dalam waktu hingga 14 hari, diawali demam, sakit kepala, batuk, nyeri tenggorokan, dan gangguan pernapasan. Dalam kondisi tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi ensefalitis atau pembengkakan otak yang berisiko menimbulkan kejang hingga koma.
Hingga kini, belum tersedia obat khusus untuk mengobati virus Nipah.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India membantah laporan yang menyebutkan adanya lonjakan kasus. Pemerintah India menyatakan sebanyak 196 orang yang memiliki kontak erat dengan pasien terkonfirmasi telah diidentifikasi, dipantau, dan menjalani tes. Seluruhnya dinyatakan tidak bergejala dan hasil tes menunjukkan negatif virus Nipah.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)