Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menggali Tingkat Risiko Kematian Clade I dan Clade II Virus Mpox

Kesya Fatharani Shafa , Jurnalis-Senin, 26 Agustus 2024 |22:00 WIB
Menggali Tingkat Risiko Kematian Clade I dan Clade II Virus Mpox
Tingkat risiko kematian virus Mpox. (Foto: Freepik.com)
A
A
A

PERHATIAN media baru-baru ini tertuju pada penyebaran Mpox yang merupakan nama lain dari Monkeypox atau cacar monyet. Sekadar informasi, Republik Demokrasi Kongo (DRC), pertama kali melaporkan kasus ini pada 1970, dan ke negara-negara tetangganya.

Pada kasus di DRC, strain clade I menular dari hewan, seperti tikus kecil, ke manusia, dan kadang-kadang menyebar antar manusia. Kasus-kasus ini terkonsentrasi di barat dan tengah negara tersebut dan memengaruhi banyak anak-anak yang berisiko tinggi mengalami penyakit parah.

Kasus-kasus clade I telah meningkat selama bertahun-tahun, kata Anne Rimoin, seorang epidemiolog dari University of California, Los Angeles, yang telah lama mempelajari Mpox di DRC. Meskipun ada laporan bahwa clade I mungkin lebih mematikan daripada clade II, data yang tersedia masih belum cukup untuk mendukung klaim tersebut.

DRC melaporkan bahwa clade I memiliki tingkat kematian hingga 10 persen, sementara clade Il dikatakan membunuh hingga 3,6 persen dari mereka yang terinfeksi. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa tingkat kematian sebenarnya dari clade I di DRC sekitar tiga persen.

Mpox

Hal ini menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami perbedaan tingkat kematian antara clade-clade tersebut. Membandingkan data kematian antara Nigeria dan DRC bisa seperti ‘membandingkan apel dan jeruk’ karena perbedaan dalam mendeteksi infeksi ringan.

Kondisi ini membuat virus di DRC tampak lebih mematikan daripada di Nigeria. Faktor-faktor seperti cara terpapar, status kesehatan sebelumnya, dan kualitas perawatan juga berperan. Selain itu, usia berperan penting dalam perbedaan ini.

Merangkum dari Science, Senin (26/8/2024), DRC melaporkan lebih banyak kasus pada anak-anak, yang berisiko lebih tinggi meninggal karena Mpox, terutama jika mereka sangat muda atau kurang gizi.

Salah satu data menarik berasal dari studi yang belum dipublikasikan tentang obat antivirus tecovirimat untuk mengobati pasien Mpox di DRC. Data ini diperoleh dari Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular serta INRB.

Meskipun obat tersebut tidak berhasil, siaran pers pada 15 Agustus melaporkan bahwa tingkat kematian sebesar 1,7 persen terjadi di kedua kelompok, baik yang menerima pengobatan maupun plasebo.

Tingkat kematian ini kemungkinan disebabkan oleh perawatan yang lebih baik yang diterima oleh peserta penelitian dibandingkan dengan perawatan standar di DRC. Studi pada hewan menunjukkan bahwa clade I lebih mematikan daripada clade Il, tetapi perbedaan ini tidak selalu berlaku untuk manusia, menurut Liesenborghs.

Selain itu, terdapat perbedaan antara clade Ia dan clade Ib yang beredar di DRC. Clade Ib, yang sebagian besar menyebar melalui kontak seksual, memiliki tingkat kematian yang jauh lebih rendah dibandingkan clade Ia.

Ini mungkin disebabkan oleh karakteristik penularan clade Ib, yang lebih memengaruhi orang dewasa, sehingga risiko terkena penyakit parah lebih rendah. Sebaliknya, clade Ia lebih umum terjadi pada anak-anak yang berisiko lebih tinggi mengalami penyakit parah.

Belum ada bukti bahwa clade Ib berevolusi untuk lebih mudah menyebar melalui hubungan seksual. Meskipun clade la dan Ib mungkin telah terpisah ratusan tahun yang lalu, tidak ada bukti bahwa clade Ib telah menyebar di antara manusia selama periode tersebut.

Penularan clade Ib melalui kontak seksual cenderung mempengaruhi orang dewasa, sementara clade la lebih umum pada anak-anak dengan risiko tinggi. Hal ini menjelaskan perbedaan dalam tingkat kematian antara kedua clade. Penelitian menunjukkan bahwa clade Ib mungkin telah muncul sebelumnya di DRC bagian timur tetapi kemudian menghilang, mirip dengan pola yang sering terjadi pada clade la di barat negara tersebut.

(Leonardus Selwyn)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement