KEHADIRAN dokter naturalisasi menjadi polemik di masyarakat. Ini setelah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin secara blak-blakan menyebut Indonesia masih kekurangan dokter spesialis.
Menkes Budi menyebut dampak dari kurangannya dokter spesialis membuat ribuan nyawa bayi yang mengalami kelainan jantung bawaan melayang.
"Indonesia ini punya lebih dari 12.000 bayi dengan kelainan jantung bawaan, mereka itu perlu dioperasi cepat, kalau enggak angka kematiannya tinggi. Bayi-bayi ini memiliki risiko tinggi untuk meninggal. Kalau kita tunggu (sampai dioperasi), risikonya makin tinggi. Nah, kedatangan dokter asing itu sebenarnya untuk menyelamatkan enam ribu nyawa ini," tutur Menkes Budi.
Belum lagi, lanjut Menkes Budi, operasi jantung terbuka saat ini baru bisa dilakukan di enam rumah sakit. "Karena nggak ada spesialis Bedah Torak, Kardiak dan Vaskular (BTKV) yan bisa mengoperasi jantung anak."
Benarkah dokter di Indonesia Kurang Dokter?
Data jumlah dokter yang ada di Indonesia memang memiliki sejumlah kelemahan. Pasalnya, sejumlah instansi memiliki perbedaan dalam jumlah.
Berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan jumlah dokter umum di Indonesia hingga Mei 2024 mencapai 156.310 dokter. Jika target dokter menggunakan ratio 1 dokter per 1.000 penduduk, maka Indonesia masih memiliki kekurangan 124.294 dokter. Rata-rata terdapat sekira 12.000 lulusan setiap tahun dari 117 fakultas kedokteran di Indonesia.
Sedangkan jumlah dokter spesialis tercatat 49.670. Rasio ideal berdasarkan data Bappenas yakni 0,28 per 1.000 penduduk. Dengan demikian, Indonesia masih kekurangan 29.179 dokter spesialis. Rata-rata terdapat 2.700 lulusan setiap tahun dari 24 fakultas kedokteran penyelenggaran pendidikan dokter spesialis.
Sementara itu, data dari situs Konsil Kedokteran Indonesia per September 2023, terdapat 169.708 dokter di bawah usia 40 tahun yang sudah terdaftar. Sayangnya tidak ada data lengkap mengenai jumlah dokter umum dan dokter spesialis dalam data tersebut.
Data idionline.org menyebutkan bahwa saat ini jumlah dokter yang ada di Indonesia dan memiliki umur 40 tahun sebanyak 121.821 (61,2%). Sebanyak 152.631 merupakan dokter umum dan 46.773 merupakan dokter spesialis. Berdasarkan jenis kelamin perempuan mendominasi dengan jumlah 118.038 orang dan hanya 81.052 dokter yang berjenis kelamin laki-laki.
Sebaran dokter di Indonesia Tidak Merata
Permasalah lainnya yakni tidak meratanya jumlah dokter yang ada di Indonesia. Berdasarkan data dari Junior Doctors Network (JDN) Indonesia yang dibentuk oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), terdapat sebaran dokter yang timpang.
Dari 169.708 dokter di bawah 40 tahun yang terdaftar di situs Konsil Kedokteran Indonesia per September 2023, Pulau Jawa memiliki jumlah dokter terbanyak. Jawa Barat memiliki 26.165 dokter, disusul DKI Jakarta dengan 21.412 dokter. Selanjutnya Jawa Timur yang memiliki 19.605 dokter dan Jawa Tengah 15.665 dokter.
Sedangkan di luar Pulau Jawa hanya Sumatera Utara yang memiliki 11.931 dokter, sedangkan tiap provinsi lainnya di Indonesia memiliki kurang dari 10.000 dokter, bahkan tidak sedikit yang memiliki jumlah dokter di bawah 1.000 untuk provinsi.
Sementara itu berdasarkan database IDIonline.org hingga 5 November 2023 untuk dokter 40 tahun ke bawah, terdapat 4 provinsi yang memiliki dokter di atas 10.000. Sedangkan untuk provinsi yang memiliki kurang dari 500 dokter terdapat 4 provinsi di Indonesia.
Berikut jumlah dokter 40 tahun yang tersebar di Indonesia:
10 Provinsi dengan jumlah dokter usia ≤40 tahun terbanyak:
1. DKI Jakarta 16.522 dokter
2. Jawa Barat 15.996 dokter
3. Jawa Timur 12.456 dokter
4. Jawa Tengah 11.302 dokter
5. Sumatera Utara 6.800 dokter
6. Banten 5.550 dokter
7. Sulawesi Selatan 5.405 dokter
8. Bali 4.449 dokter
9. Riau 4.331 dokter
10. Aceh 3.972 dokter
10 Provinsi dengan jumlah dokter usia ≤40 tahun paling sedikit, yaitu:
1. Papua Barat 312 dokter
2. Gorontalo 338 dokter
3. Kalimantan Utara 405 dokter
4. Papua Barat Daya 413 dokter
5. Maluku Utara 585 dokter
6. Bengkulu 783 dokter
7. Maluku 807 dokter
8. Bangka Belitung 935 dokter
9. Kalimantan Tengah 1.004 dokter
10. Kepulauan Riau 1.035 dokter
Berdasarkan sebaran tersebut, jika dilakukan jumlah rasio 1.000 penduduk per satu dokter, maka baru DKI Jakarta dengan rasio 1:646,4 (dengan jumlah penduduk 10.679.951) dan Bali dengan rasio 1: 992,4 (dengan jumlah penduduk 4.415.000) yang sudah terpenuhi.
Ini berarti masih banyak provinsi lainnya yang belum memiliki standar ideal pemenuhan dokter di Indonesia. Bahkan ada provinsi yang memiliki rasio di atas 1:3.000, seperti di Gorontalo dengan rasio 1: 3.528, 8 (dengan jumlah penduduk 1.192.737), Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan rasio 1: 3.558,8 (dengan jumlah penduduk 5.466.300), dan Lampung dengan rasio 1:3.479,9 (dengan jumlah penduduk 9.176.550).
Butuh 20 Tahun Capai Standar Acuan Dunia
Presiden Joko Widodo mengatakan jumlah dokter di Indonesia masih sangat rendah. Indonesia berada di peringkat ke-147 di dunia dengan angkat 0,47. Untuk itu, Presiden Jokowi meminta pemangku kebijakan untuk mengejar ketertinggalan tersebut.
Sementara itu Menkes Budi menjelaskan, dibutuhkan waktu 20 tahun untuk mengejarnya jika dalam kondisi saat ini. Beberapa penyebab dianggap sebagai faktor penghambat dan hal tersebut perlu dituntaskan.
"Dokter spesialis sangat sedikit karena biayanya sangat mahal. Di Indonesia untuk menjadi dokter spesialis, dokter harus berhenti praktik terlebih dulu untuk daftar kuliah, ikut kuliah, dan setelah selesai kuliah empat tahun, baru praktik lagi,” kata Menkes di kesempatan yang sama.
Untuk itu, diperlukan terobosan untuk meningkatkan jumlah dokter spesialis. Salah satunya dengan menggunakan hospital based atau dilakukan di rumah sakit. Ini sudah dilakukan sejumlah negara untuk meningkatkan dokter spesialis.
“Untuk pendidikan dokter spesialis akan dilakukan berdasarkan collegium based bekerja sama dengan hospital based. Dokter umum tetap akan bekerja sama dengan perguruan tinggi,” tutur Menkes.
Untuk menjaga kualitas lulusan pendidikan dokter spesialis dengan konsep hospital based, pemerintah menggandeng lembaga terpercaya dari Amerika untuk melakukan akreditasi rumah sakit pendidikan. Selain itu, pemerintah juga akan membuat skema pembiayaan yang tidak memberatkan para calon dokter spesialis.
“Kami akan mempermudah, dibuat murah, bahkan kami akan gaji, dan untuk mutu kalau bisa lebih bagus.”
Masih Perlukah Dokter Naturalisasi?
Menkes Budi menyebut kehadiran dokter naturalisasi merupakan bentuk kebutuhan darurat dokter spesialis yang bisa dipenuhi saat ini. Berkaca dari kasus kematian balita akiba kelainan jantung bawaan, kehadiran dokter asing ini diharapkan bisa mengurangi jumlah kematian ribuan bayi di Indonesia.
Ia pun memastikan, isu Dokter Naturalisasi ini bukan untuk meredahkan kemampuan dokter yang ada di Indonesia.
"Isunya juga bukan merendahkan kemampuan dokter-dokter Indonesia, enggak. Dokter-dokter kita mampu, masalahnya enggak cukup dan lebih dari enam ribu bayi setiap tahun mengalami risiko kehilangan nyawa. Kan gak bisa nunggu," katanya.
"Jadi, nggak ada hubungannya dengan kualitas dokter, gak ada hubungannya dengan kemampuan dokter kita. Itu. Ya, mungkin agak tersentuh secara emosional, tapi ini sebenarnya soal menyelamatkan nyawa."
Sementara itu, dalam laporan Policy Breief 1.0 oleh Junior Doctors Network (JDN) Indonesia kesimpulannya yakni permasalahan ketersediaan sumber daya kesehatan di Indonesia tidak semata-mata karena masalah distribusi
dokter saja. Akan tetapi, terdapat beragam faktor internal dan eksternal dari sistem kesehatan yang saling mempengaruhi dan membutuhkan kajian lebih lanjut.
Pemerintah sebagai regulator bersama dengan organisasi profesi diharapkan dapat bersinergi untuk memenuhi kebutuhan dokter dan memaksimalkan distribusi dokter di Indonesia, sehingga seluruh rakyat terjamin haknya untuk memperoleh akses fasilitas kesehatan yang adil dan setara.
Melihat hal tersebut, maka pemerintah harus berkomitmen untuk tetap memenuhi kebutuhan dokter di Indonesia. Dengan demikian, kemerataan jaminan kesehatan setiap warga negara di semua wilayah dapat terpenuhi.
Profesi dokter pun harus tetap berkembang seiring cepatnya zaman. Jangan pernah takut untuk kehadiran dokter naturalisasi, karena kedatangan mereka bisa untuk saling bertukar informasi dan perkembangan kedokteran di dunia.
Dengan kemampuan dan kapasitas dokter di Indonesia yang saat ini ada, kehadiran dokter naturalisasi hanya sebagai pendamping serta pelengkap. Catatan lainnya, pemerintah sebagai regulator harus berkomitmen untuk terus meningkatkan kemampuan dan skil dokter di Indonesia.
Dan memastikan dokter naturalisasi mau dan berkomitmen untuk ditempatkan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar. Serta memberikan jaminan kesehatan dan keselamatan dokter Indonesia maupun dokter naturalisasi saat bertugas di wilayah tersebut.
(Kemas Irawan Nurrachman)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.