INSIDEN tragis menimpa seorang gadis berusia 12 tahun di Belfast yang mengalami koma setelah menggunakan rokok elektrik atau sering disebut vape. Northern Ireland Chest Heart dan Stroke (NICHS) meluncurkan kampanye kesadaran baru untuk menyoroti risiko serius yang terkait dengan vaping.
Melansir dari Vt Selasa (21/5/2024), kejadian yang melibatkan Sarah Griffin dimulai saat dia merasa kurang sehat. Lalu ibunya, Mary Griffin, mengira batuk Sarah disebabkan oleh riwayat asma dan perubahan cuaca. Namun, kondisi Sarah semakin memburuk secara drastis pada keesokan harinya.
Sarah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Royal Victoria, di mana kondisi kesehatannya yang semakin memburuk, membuatnya harus dipindahkan ke ruang ICU. Dokter menemukan bahwa salah satu paru-paru Sarah mengalami kerusakan yang cukup parah sehingga menimbulkan infeksi serius dan menghubungkan kondisinya dengan penggunaan vape yang telah merusak paru-parunya.

"Para dokter menjelaskan bahwa vaping telah melemahkan paru-paru Sarah, membuatnya rentan. Jika kita menunggu lebih lama lagi sebelum membawanya ke rumah sakit, dia mungkin tidak akan berhasil," tutur Mary.
Meskipun Sarah sudah pulih, tetapi dia tetap harus menjalani perawatan intensif dan berada di bawah pengawasan Klinik Asma, di Rumah Sakit Royal Belfast. NICHS berharap kampanye ini bisa mematahkan kesalahpahaman tentang penggunaan vape yang dianggap aman.
Mereka menekankan bahwa satu vape sekali pakai dengan kadar 20 mg memiliki jumlah nikotin yang sama dengan 20 batang rokok biasa dan juga mengandung bahan kimia berbahaya seperti yang ada dalam produk pembersih, penghapus cat kuku, serta zat pembasmi rumput liar.
Melalui kampanye ini, NICHS berharap dapat meningkatkan kesadaran akan bahaya vape, terutama di kalangan generasi muda, dan mendorong individu untuk mempertimbangkan kembali persepsi keamanan pada vape. Mary dan Sarah berbagi pengalaman mereka dengan harapan dapat mengingatkan masyarakat akan potensi bahaya vape.
(Leonardus Selwyn)