BERDASARKAN Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan, prevalensi hipertensi di Indonesia meningkat dari 25,8 persen pada tahun 2013 menjadi 34,11 persen di tahun 2018.
Data juga menunjukkan hipertensi tidak hanya terjadi pada orang lanjut usia, melainkan kelompok umur di bawah 45 tahun, bahkan pada usia remaja atau dewasa muda. Salah satu cara menghindari risiko hipertensi ini adalah dengan cek rutin kesehatan kita, termasuk mengukur tekanan darah rutin di rumah.
Banyak sekali manfaat rutin mengukur tekanan darah, seperti membantu diagnosis dini, mengantisipasi risiko hipertensi, mengurangi risiko stroke hingga penyakit jantung, dan mengevaluasi pengobatan.
Lantas kapan waktu terbaik mengukur tekanan darah?
Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia, dr Eka Harmeiwaty, Sp.N menganjurkan mengukur tekanan darah pada pagi hari satu jam setelah bangun tidur.

“Setelah buang air tapi dalam keadaan perut kosong. Diukur sebanyak tiga kali terus diambil rata-rata,” ujar dr Eka dalam acara Beat Hypertension 2024, Jumat (27/5/2024).
Selain itu, dianjurkan juga cek tekanan darah pada malam hari setelah makan malam. Hal ini dilakukan untuk memastikan sebelum tidur tekanan darahnya rendah.
“Jadi kalau malam hari tekanan darahnya harus lebih rendah dari pagi hari. Sekarang ceknya sudah pakai digital semua untuk diagnostik,” tuturnya.
Sementara itu, untuk cek tekanan darah sebaiknya dimulai dari usia 18 tahun. Menurut dr Eka durasi waktunya pun disesuaikan dengan hasil tekanan darah di awal dan faktor risikonya.
“Kalau tensinya masuk kategori grade satu terus ada faktor risiko genetik, pengecekannya harus lebih sering. Tapi kalau hasilnya optimal dan tidak ada faktor risiko bisa dilakukan 3-5 tahun sekali,” katanya.
(Leonardus Selwyn)