PRO dan kontra terkait inovasi Wolbachia masih ramai diperbincangkan di masyarakat. Tidak sedikit dari mereka yang menganggap adanya teknologi nyamuk berwolbachia menjadikan manusia hanya digunakan sebagai kelinci percobaan pemerintah.
Tujuan nyamuk berwolbachia ini dalam upaya menurunkan angka Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Menyikapi hal tersebut, Staf Teknis Komunikasi Transformasi Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Ngabila Salama mengatakan setiap gigitan nyamuk berwolbachia tidak membuat seseorang terserang penyakit, karena aman digunakan.
“Layaknya digigit nyamuk biasa, Wolbachia juga tidak mengurangi populasi nyamuk dan tidak melakukan rekayasa genetika pada nyamuk, sehingga tidak mengganggu ekosistem dan mikroorganisme lainnya. untuk itu, manusia tidak dijadikan kelinci percobaan dalam hal ini,” kata Ngabila kepada MNC Portal Indonesia beberapa waktu lalu.
Menurutnya, jika ada informasi seperti itu, maka dipastikan itu hanya hoax atau asumsi atau provokasi yang membuat masyarkat menjadi khawatir dan semakin berpikir negatif tentang Wolbachia.
Selain itu, Ngabila juga menjelaskan dengan adanya nyamuk berwolbachia, maka tidak mengurangi populasi nyamuk. Karena nyamuk Aedes Aegypti yang ada hanya berubah menjadi Aedes Aegypti ber-Wolbachia.
“Wolbachia ini ada di enam Persen serangga secara alamiah. Maka target akhirnya semua nyamuk Aedes Aegypti (nyamuk yang membawa virus DBD DEN 1,2,3,4) akan mandul dan tidak bisa lagi membawa virus sehingga tidak lagi menularkan DBD ke manusia,” ucap Ngabila.
Lebih lanjut, dengan adanya nyamuk berwolbachia maka diharapkan kasus DBD di Indonesia akan terus bisa ditekan hingga nol kasus kematian, dan hal itu akan terwujud sesuai target 2030 zero death dengue oleh WHO.
(Leonardus Selwyn)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.