INILAH perjuangan relawan yang bertahan hidup di RS Indonesia Gaza untuk menjadi teladan bagi seluruh umat manusia.
BACA JUGA:
Karena belakangan ini beberapa relawan Indonesia yang ada di RS Indonesia Gaza sudah hilang kontak usai terkena serangan militer Israel. Hal itu dikarenakan komunikasi yang terputus di lokasi tempat kejadian tersebut.
Dilansir melalui laman resmi Al Jazeera, diinformasikan bahwa terdapat sejumlah relawan Indonesia yang diutus untuk membantu di Rumah Sakit Indonesia Gaza. Salah satu relawan diketahui merupakan tim medis MER-C Indonesia di Gaza, yaitu Fikri Rofiul Haq.
Hampir setiap hari wilayah tersebut mendapat serangan militer Israel yang dengan sengaja memusatkan serangannya pada infrastruktur rumah sakit. Dengan kondisi tersebut akhirnya membuat para staff lain mulai mengantungkan hidup ke Rumah Sakit Al Shifa untuk bertahan hidup mengkonsumsi makanan.
“Di Rumah Sakit Indonesia saat ini, staf hanya mendapat makan sekali sehari saat makan siang, yang disediakan oleh Rumah Sakit Al-Shifa (yang berdekatan). Untuk sarapan dan makan malam, staf makan biskuit atau kurma,” ujar Rofiul Haq ke Al Jazeera.
Kondisi di rumah sakit Indonesia dan Al-Shifa, serta rumah sakit lainnya di Gaza, terus memburuk sejak terakhir kali media internasional Al Jazeera berbicara dengan Haq pada hari Jumat.
Sementara Dr Mohammad Abu Salmiya, direktur Rumah Sakit Al-Shifa, memperingatkan pada hari Sabtu bahwa ratusan rumah sakit di Gaza berada dalam kondisi yang buruk. Banyak pasien yang terluka serta bayi yang baru lahir harus segera diangkut ke fasilitas medis operasional karena rumah sakitnya hancur akibat kekurangan bahan bakar dan obat-obatan serta pemboman Israel.
“Ini adalah sebuah tragedi. Mayat-mayat tersebut, kami tidak dapat memasukkannya ke dalam freezer karena tidak berfungsi sehingga kami memutuskan untuk menggali lubang di sekitar rumah sakit. Ini adalah pemandangan yang sangat tidak manusiawi. Situasinya benar-benar di luar kendali. Ratusan mayat membusuk,” kata Abu Salmiya kepada Al Jazeera.
Hal senada disampaikan Atef al-Kahlot, direktur Rumah Sakit Indonesia, mengatakan fasilitasnya hanya beroperasi dengan kapasitas antara 30-40 persen dan dia meminta dunia untuk membantu.
“Kami menyerukan kepada orang-orang terhormat di dunia, jika ada di antara mereka yang masih tersisa, untuk memberikan tekanan pada pasukan pendudukan untuk memasok Rumah Sakit Indonesia dan rumah sakit lainnya di Jalur Gaza,” tambah Abu Salmiya.
Meski begitu relawan Fikri Rofiul Haq tetap bersyukur karena sampai saat ini semua dalam keadaan sehat dan selamat, meskipun tidak ada jaminan keselamatan hidup di sekitar ini
“Tidak ada jaminan keselamatan kami. Hal ini membuat saya merasakan ketakutan yang luar biasa, namun berkat kasih dan karunia Tuhan, kami terlindungi.” pungkas Fikri Rofiul Haq.*
(Hafid Fuad)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.