KENAPA tanggal 25 Desember diperingati sebagai hari Natal? Mungkin ini adalah pertanyaan yang sering ditanyakan dalam benak kalian.
Natal adalah hari keagamaan bagi umat Kristiani, Natal bertujuan untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus yang merupakan Tuhan atau Juru Selamat dalam agama Kristen.
Lantas, bagaimana sejarah dan cerita di balik penetapan tanggal 25 Desember sebagai hari perayaan Natal?
Mari simak sejarah dan juga latar belakang di balik penetapan 25 Desember sebagai hari Natal, yang dikutip dari Jurnal IAKN Manado yang berjudul Makna Teologi Perayaan Natal Yesus Kristus (2019), Jumat (17/11/2023).

Sejarah Perayaan Natal 25 Desember
Mengutip Yusuf Eko Basuki dalam buku Rayakan Natal Setiap Hari (2013), para murid Yesus dan orang-orang Kristen yang hidup pada abad pertama, tidak pernah sekalipun mereka merayakan Natal sebagai hari kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember.
Bahkan, dalam Alkitab juga tidak ditemukan satu ayat pun Tuhan Allah maupun Yesus yang memerintahkan untuk merayakan Natal. Oleh karena itu, perayaan Natal pada tanggal 25 Desember sesungguhnya adalah perayaan agama Paganis atau penyembah berhala yang dilestarikan oleh umat Kristiani.
Mengutip F.D. Wellem dalam buku Kamus Sejarah Gereja (2006), perayaan Natal 25 Desember adalah akibat dari sinkristime (perpaduan agama dan budaya) yang mungkin dimaksudkan untuk menentang peringatan hari lahirnya Dewa Matahari dalam agama Romawi Kuno. Sehingga menegaskan bahwa Yesus Kristuslah sang Matahari kebenaran.
Menurut Christian Ratsch & Claudia Muller Ebeling dalam Pagan Christmas: The Plants, Spirit, and Rituals at the Origins of Yuletide (2006), disebutkan perayaan Natal baru masuk dalam ajaran gereja pada abad ke-4 M. Peringatan ini berasal dari kebiasaan-kebiasaan atau tradisi upacara adat masyarakat penyembah berhala, dimana pada abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.
Kala itu, orang-orang Romawi merayakan 25 Desember sebagai hari kelahiran Dewa Matahari, ini adalah masa keemasan kebebasan universal dan kesetaraan untuk menghormati Dewa Matahari yang tak terkalahkan Natalis Solis Invicti (Kelahiran Sol Yang Tak Terkalahkan).
Dan ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katolik, mereka tidak mampu meninggalkan adat atau budaya pagannya. Apalagi terhadap pesta rakyat sebagai sebuah tradisi untuk memperingati Sunday (Hari Matahari) yaitu kelahiran Dewa Matahari.
Agar gereja bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi kala itu, diadakanlah sinkretisme atau perpaduan agama dan buday dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan=Yesus Kristus).
Lalu, pada konsili tahun 325 M, untuk mengakui doktrin resmi agama Kristen yaitu Trinitas sebagai konsep Tuhan yang benar, maka diputuskan dan ditetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus.
Demikianlah informasi dan penjelasan mengenai kenapa tanggal 25 Desember diperingati sebagai hari Natal, semoga artikel ini bermanfaat.
(Endang Oktaviyanti)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.