KEPALA Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi menyoroti penyebaran virus Marburg di Afrika. Awalnya virus Marburg ada di Guinea Khatulistiwa, kini Tanzania juga sudah melaporkan.
Namun dr Nadia menjelaskan, saat ini tidak ada kasus virus Marburg di Indonesia.

Meskipun saat ini di Indonesia tidak ada virus Marburg, virus ini tak boleh diremehkan. Sebab angka kematiannya cukup tinggi.
Lalu bagaimana menghindari tertular virus Marburg?
Kepala Seksi Surveilans Epidemiolog dan Imunisasi Dinkes Provinsi DKI Jakarta, dr. Ngabila Salama menjelaskan, penularan virus Marburg, sejauh ini dari binatang kelelawar. Oleh karena itu agar tak tertular harus mengurangi kontak dengan kelelawar reservoir virus Marburg.
Apabila seseorang harus mengunjungi habitat kelelawar, maka dapat menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker. Ditambah juga, tetap mengonsumsi makanan yang pasti matang.
BACA JUGA:
"Mengurangi kontak dengan kelelawar reservoir virus Marburg, kalau seseorang harus mengunjungi area habitat kelelawar, maka menggunakan sarung tangan dan alat pelindung lainnya seperti masker. Konsumsi daging secara matang, termasuk saat di daerah wabah virus Marburg. Menghindari kontak dengan orang yang dicurigai atau terinfeksi termasuk cairan tubuhnya," ujar dr Ngabila.
BACA JUGA:
Sehubungan dengan ini, ia juga mengatakan ada tata laksana untuk tenaga kesehatan (nakes) sesuai dengan aturan PPI. Seperti menggunakan APD, kendatinya ia juga mengingatkan agar rutin mencuci tangan setelah kunjungan ke orang sakit.
"Bagi petugas kesehatan, terapkan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI). Mencuci tangan secara rutin terutama ketika mengunjungi seseorang yang sakit atau setelah melakukan penanganan terhadap orang yang sakit di rumah. Melakukan tatalaksana penanganan sampel cairan dan jaringan tubuh penderita penyakit virus Marburg dengan sangat hati-hati dan sesuai dengan PPI," jelas dr Ngabila.
Perlu diketahui, menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) virus Marburg pertama kali muncul pada tahun 1967. Namun sejauh ini belum ada vaksin untuk virus Marburg.
Sementara untuk pengobatannya, dia mengatakan belum ada secara spesifik buat Marburg. Namun, bisa mencegah gejala berat jika terinfeksi.
"Belum ada vaksin untuk mencegah virus Marburg. Sampai saat ini belum ada pengobatan yang spesifik untuk penyakit virus Marburg. Pengobatan lebih bersifat suportif dan mengobati gejala (simptomatif)," ucap dr Ngabila.
(Dyah Ratna Meta Novia)