Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kasus Infeksi Jamur Candida Auris di AS Tembus 2 Ribu, CDC: Efek Pandemi Covid

Kevi Laras , Jurnalis-Jum'at, 24 Maret 2023 |10:41 WIB
Kasus Infeksi Jamur Candida Auris di AS Tembus 2 Ribu, CDC: Efek Pandemi Covid
Strain jamur Candida Auris, (Foto: Reuters)
A
A
A

AMERIKA Serikat tengah menghadapi ribuan kasus infeksi jamur Candida Auris yang tengah jadi sorotan. Terdeteksi, saat ini dilaporkan sudah menembus lebih dari 2 ribu kasus.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menyebut merebaknya kasus infeksi jamur Candida Auris ini sebagai salah satu efek pandemi Covid-19.

"CDC mencatat penyebaran infeksi ini tahun 2021, kemungkinan diperburuk karena sistem layanan kesehatan dilanda kesulitan terkait pandemi, seperti kekurangan staf dan peralatan kesehatan," bunyi keterangan CDC, dikutip dari Reuters, Jumat (24/3/2023)

Berdasarkan laman resmi CDC, kasus infeksi jamur yang terkonfirmasi sudah sampai 2.377. angka kasus dinilai meningkat tajam dari 53 kasus pada tahun 2016, tahun ketika kasus pertama kali dilaporkan di negara Paman Sam tersebut.

Dari laporan para peneliti yang melaporkan di Annals of Internal Medicine, seiring berjalannya waktu, prevelansi kasus pun terus meningkat. Tahun 2019 meningkat 44 persen menjadi 476 kasus, kemudian melonjak 59 persen menjadi 756 pada 2020 dan melesat hingga 95 persen menjadi 1.471 kasus di tahun 2021.

Sebagai informasi, Candida auris (C. auris) sendiri merupakan ragi, keluarga jamur yang mengandung spesies sangat membantu manusia dalam aktivitas seperti pembuatan roti dan pembuatan bir, tetapi juga menampilkan spesies yang menyebabkan infeksi pada manusia.

Namun, jika seseorang terinfeksi C. auris maka seringnya bisa menyebabkan infeksi aliran darah, mempengaruhi sistem pernafasan, sistem saraf pusat dan organ dalam, serta kulit.

Infeksi ini biasanya cukup serius, diungkap Dr. Tina Joshi, profesor biologi molekuler di University of Plymouth, Inggris, mengingat jamur jenis ini seringkali kebal terhadap obat biasa, yang akhrinya membuat infeksi sulit diobati.

"Masalah terbesar dengan jamur ini adalah resistensinya terhadap obat yang kita miliki," kata Dr. Tina, dikutip dari BBC. 

(Rizky Pradita Ananda)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement