JEPANG kembali memecahkan rekor kelahiran terendahnya sepanjang masa. Ini semakin menambah panjang deretan angka penurunan kelahiran di negeri Sakura itu dalam kurun waktu tujuh tahun.
Dikutip dari Japan Times, jumlah bayi baru lahir turun sekitar 5,1 persen dari tahun sebelumnya menjadi 799.728. Ini angka paling rendah sejak Jepang mulai mencatat angka kelahiran mereka di tahun 1899. Bahkan, jumlah kematian di Jepang melampaui jumlah kelahiran yang ada selama satu dekade.
Dalam laporan yang sama juga menjelaskan ketakutan Jepang akan berkurangnya tenaga kerja dan jumlah pajak karena usia produktif penghasil pajak semakin menipis. Tentu saja akan berimbas pada pertahanan ekonomi Jepang yang saat ini masih berada di urutan ketiga dunia di tahun-tahun mendatang.

Selain itu, biaya untuk perawatan lanjut usia (lansia) terus meningkat, dan membuat hutang Jepang semakin membengkak karena penghasilan pajak semakin berkurang. Hal ini karena proporsi lansia dan usia produksi yang tak seimbang. Populasi lansia di negara tersebut adalah yang paling tinggi di dunia.
Dikutip dari CNN Edition, Jepang adalah negara dengan harapan hidup tertinggi di dunia. Di tahun 2020, hampir satu dari 1.500 orang Jepang berusia 100 tahun atau lebih. Ini berdasarkan data pemerintah.
Perdana Menteri Fumio Kishida sudah memberikan peringatan untuk menangani masalah ini dengan lebih serius.
“Dalam memikirkan keberlanjutan dan inklusivitas ekonomi dan masyarakat bangsa kita, kami menempatkan dukungan pengasuhan anak sebagai kebijakan terpenting kami,” katanya, dikutip dari CNN Edition, Kamis (2/3/2023).
Dalam kesempatan yang sama, ia juga menambahkan bahwa Jepang tidak bisa menunggu lebih lama lagi dalam menyelesaikan masalah angka kelahirannya yang rendah. Fumio bahkan membentuk bandan khusus untuk menangani masalah ini dan menambah biaya penanganan yang berhubungan dengan anak menjadi dua kali lipat.
Namun ternyata uang tak dapat menyelesaikan lingkaran setan masalah kelahiran di Jepang. Ada banyak faktor lain yang membuat masalah ini terus berlanjut hingga sekarang.
BACA JUGA: Ternyata, Ini Penyebab Jepang Alami Resesi Seks Terus Menerus
BACA JUGA: Resesi Seks, Ini 15 Negara yang Warganya Ogah Punya Anak!
"Biaya hidup yang tinggi di Jepang, ruang yang terbatas, dan kurangnya dukungan pengasuhan anak di kota-kota membuat sulit untuk membesarkan anak, yang berarti semakin sedikit pasangan yang memiliki anak. Pasangan perkotaan juga seringkali jauh dari keluarga besar di daerah lain, yang bisa membantu memberikan dukungan," ungkap laporan CNN Editon.
(Vivin Lizetha)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.