SEMUA negara tentunya memiliki daya tarik tersendiri untuk menggaet para turis masuk ke wilayah mereka, bahkan pendapatan negara pun juga tergantung dari berapa banyak turis yang berkunjung ke negaranya.
Tapi, hal menarik dan sangat berbeda dari negara lainnya yang berupaya membuat para turis berdatangan dengan beberapa pengeluaran minim justru sebuah negara kecil memberikan program perjalanan yang cukup besar untuk para turis yang ingin berjelajah di sini.
Negara kecil di Asia Selatan, Bhutan merupakan negara yang membuat para turis harus bersiap menguras dompet mereka ketika datang ke sini.
Bhutan baru-baru ini mengubah program Biaya Pembangunan Berkelanjutan awal tahun ini, Anda akan dikenakan biaya USD200 atau sekitar Rp3 juta lebih untuk setiap hari menginap.
Biaya itu hanya untuk penginapan belum termasuk fasilitas makan dan sebagainya, terhitung pengeluaran dalam seminggu akan menelan biaya lebih dari USD2.000 atau Rp31 juta lebih hanya untuk berada di Bhutan. Hal itulah yang menjadi negara ini termahal di dunia, dalam hal visa.
Pengenaan biaya yang sangat tinggi, nyatanya tak terlalu dipikirkan oleh negara Bhutan. Negara kecil ini tidak terlalu peduli jika turis mau berkunjung atau tidak.
Seorang traveler sedang ditugaskan untuk meliput kisah jalur pendakian jarak jauh terbaru di sana, ia menjadi tamu G Adventure dan Biaya Pembangunan Berkelanjutan-nya dibebaskan oleh pemerintah Bhutan.
Dia bercerita, jika dia sempat duduk bersama dengan Perdana Menteri Bhutan, Lotay Tshering terkait negaranya, atraksi, dan khususnya biaya masuk baru USD300 per hari (Rp4 juta lebih). Pertanyaan traveler tersebut; “Bagaimana Anda berencana menjual negara Anda ke dunia?”
Dengan senang hati Tshering menjawab; “Saya di sini bukan untuk menjual Bhutan. Saya di sini hanya untuk memberi tahu Anda siapa kami. Kami tahu apa yang kami inginkan. Kami tahu apa yang dapat kami tawarkan, kami memiliki jalur yang jelas tentang bagaimana kami harus melestarikan negara kami,”.
Pariwisata di Bhutan dilakukan dengan cara yang hampir tidak dilakukan oleh negara lain. Mereka tidak mengutamakan untuk menghasilkan uang dari turis, terlepas dari biaya pembangunan berkelanjutan yang besar dan kuat, dan terlepas dari fakta jika Bhutan masih dianggap negara berkembang.
"Kami tidak akan mengandalkan pariwisata sebagai cara untuk menghasilkan pendapatan bagi negara. Itu sama sekali tidak benar. Setiap pendapatan (dari biaya keberlanjutan) akan diinvestasikan kembali dalam produk pariwisata 100 persen jika tidak lebih. Jadi, satu wisatawan akan dibelanjakan, pelancong berikutnya mendapat manfaat," pungkasnya.
(Foto: iStock)
Penuturan Tshering, fakta Bhutan jika mereka benar-benar tidak menginginkan turis atau tidak mengharapkan banyak turis datang ke negaranya. Mungkin Anda tertarik datang ke Bhutan, tentu Anda akan disambut dan diperlakukan dengan baik. Tetapi, Anda harus membayar banyak uang untuk hak istimewa itu.
Mereka berusaha melestarikan Bhutan sebagaimana adanya, upaya melestarikan lingkungannya sehingga negara ini disebut satu dari hanya dua negara yang menyatakan dirinya negatif karbon serta melestarikan budayanya.
"Budaya kami sangat sensitif dan sangat istimewa. Kami ingin tetap seperti ini dan menyebarkannya ke generasi berikutnya. Kami tdiak ingin menghalangi pengunjung untuk mearasakan apa yang kami alami, tapi ya, itulah salah satu alasan di balik (biaya baru) aturan," lanjut Tshering.
Pejabat negara dan penduduk Bhutan ingin memastikan lingkungan mereka masih asli atau lebih baik dari sekarang. Diketahui dalam 10 tahun terakhir, Tshering melihat degradasinya jadi perlu perhatian lebih untuk melestarikan apa yang Bhutan miliki.
“Dalam beberapa tahun terakhir, kami mulai mengalami sedikit efek samping dari pariwisata massal. Kami tidak ingin menggunakan pariwisata untuk menghasilkan pendapatan dalam bentuk apapun,” imbuh Tshering.

(Foto: Instagram/@drukasia)
Rencana Bhutan sederhana, di antaranya nilai tinggi dan volume rendah. Menciptakan sistem pariwisata yang hanya menarik bagi sebagian orang. Pemerintah Bhutan juga tidak meragukan tempat-tempat terkenal yang dikunjungi turis, seperti Amsterdam, Barcelona, Kyoto, Venesia, dan Bali.
Keistimewaan Bhutan yang menjadi negara pertama melakukan secara terang-terangan untuk melindungi diri dari dunia yang lebih luas dengan menetapkan harga.
Namun, kembali lagi kepada setiap turis yang ingin berkunjung karena mereka memiliki keputusannya masing-masing entah liburan mengutamakan kenyamanan dan asri jadi tak masalah berkunjung ke Bhutan.
(Rizka Diputra)