DUA negara di Asia Timur, Korea Selatan dan Jepang ramai diberitakan tengah mengalami resesi angka kelahiran. Bahkan Korea Selatan menempati urutan pertama negara dengan peringkat kelahiran terendah di dunia.
Menurut data CNN Asia, rata-rata anak yang dilahirkan di negara tersebut adalah 0,81 pada 2021, lebih rendah dari Jepang (1,3) dan Amerika Serikat (1,6). Padahal di satu sisi, agar populasi suatu negara bisa stabil, dibutuhkan tingkat kesuburan 2,1.
Angka kelahiran di Negeri Ginseng diketahui terus mengalami menurun sejak 2015, sementara penduduk yang meninggal dunia alias angka kematian semakin banyak. Alhasil membuat tidak keseimbangan populasi.
Berbagai faktor disebut jadi latar belakang, mulai dari generasi mudanya yang memang tak mau menikah, tak mau punya anak, lebih nyaman dengan single life, hingga lebih mementingkan pendidikan dan karir yang lebih baik, hingga tingginya biaya hidup.
Lantas apakah krisis angka kelahiran, atau sekarang ramai disebut dengan istilah resesi seks, berpeluang juga terjadi di Indonesia? Menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Hasto Wardoyo, kemungkinan Indonesia sampai mengalami krisis angka kelahiran ini sulit terjadi.
“Kemungkinan Indonesia minim kelahiran masih sangat jauh. Sebab, kebanyakan pengantin di Indonesia menikah tujuannya ingin punya anak (prokreasi),” ujar Hasto, dikutip dari keterangan resminya, Senin (12/12/2022).
Meski memang, saat ini tak ditampik usia pernikahan masyarakat Indoensia semakin mundur. Artinya, pasangan suami-istri menikah di usia relatif yang tak lagi muda. Baik karena alasan pribadi seperti karir, mengejar studi, atau kepentingan lainnya.
Namun, Hasto menyakini kondisi yang dihadapi Korea Selatan dan Jepang sulitterjadi di Indonesia? Mengingat, fakta di lapangan justru di beberapa daerah Indonesia angka kelahiran anak masih tinggi.
“Masih sangat sulit terjadi, karena beberapa provinsi di Indonesia masih memperlihatkan angka kelahiran yang tinggi,” terang Hasto pada awak media.
Daerah dengan angka kelahiran tinggi di Indonesia, mulai dari NTT dengan fertilitas 2,9, lalu Aceh 2,7, Sumatera Barat 2,7, dan Sumatera Utara 2,5.
Sementara itu, mengutip World Population Review, secara global, berikut negara-negara yang mengalami angka kelahiran rendah alias minim kelahiran anak;
1. Korea Selatan (0,9)
2. Puerto Rico (1,0)
3. Hong Kong (1,1)
4. Malta (1,1)
5. Singapura (1,1)
6. Makau (1,2)
7. Ukraina (1,2)
8. Spanyol (1,2)
9. Bosnia dan Herzegovina (1,3)
10. San Marino (1,3)
11. Moldova (1,3)
12. Italia (1,3)
13. Andorra (1,3)
14. Siprus (1,3)
15. Luxembourg (1,3)
Sedangkan, Indonesia berdasarkan data Macro Trends pada 2022 ini ada di angka fertilitas 2,2, angka aman yang menjamin pertumbuhan populasi masih berjalan dengan baik, sehingga keseimbangan antara generasi muda dan lansia terjaga.
BACA JUGA:Ini 2 Provinsi dengan Angka Kematian Penyakit Jantung Tertinggi
BACA JUGA:Perempuan di China Paling Ogah Punya Anak, Angka Kelahiran Terus Merosot Drastis
(Rizky Pradita Ananda)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.