INSIDEN mengerikan terjadi pada Southwest Flight 1380 pada 2018 lalu, dengan rute penerbangan dari New York menuju Dallas, Amerika Serikat. Pesawat mengalami kegagalan pada salah satu mesin di ketinggian lebih dari 32.500 kaki di timur Pennsylvania.
Melansir laman Popular Mechanics, puing-puing yang berterbangan akibat mesin yang rusak menghantam jendela hingga menyebabkan kabin rusak. Bahkan, penumpang hampir tersedot, beruntung dapat ditarik oleh penumpang di sampingnya.
Hal-hal bisa menjadi jauh lebih buruk jika bukan karena kapten pesawat, Tammie Jo Shults, mantan pilot pesawat tempur Angkatan Laut dan salah satu wanita pertama yang menerbangkan F/A-18.
Keduanya dengan tenang mengarahkan pesawat untuk melakukan pendaratan darurat yang aman di Philadelphia, di mana penumpang memuji kinerja Shults. Sayangnya, penumpang yang hampir tersedot keluar kabin meninggal dunia akibat luka yang diderita.

Pertanyaannya, apakah pesawat masih bisa terbang normal meski hanya mengandalkan satu mesin sebagaimana dialami Southwest Flight 1380 tanpa merusak kabin? Jawabannya adalah ya!.
Dikutip dari Flight Deck Friend, pesawat dengan dua mesin dapat terbang dengan sama baiknya hanya dengan menggunakan satu mesin. Bahkan, dapat lepas landas dan kemudian mendarat dengan aman hanya dengan satu mesin.
Kegagalan mesin dalam penerbangan biasanya bukan masalah serius dan pilot sudah mendapatkan pelatihan ekstensif untuk menghadapi situasi seperti itu.
Semua pilot diajari aturan dasar penerbangan terlepas dari tingkat keparahan peristiwa di udara seperti terbang, navigasi, dan berkomunikasi. Ini diikuti dengan memberikan informasi yang relevan kepada semua pihak terkait, dimulai dengan Air Traffic Control (ATC).
Berdasarkan keterangan Ken Hoke, seorang kapten Boeing 757/767 dan penulis di laman penjelajah penerbangan AeroSavvy.com, dalam kasus tertentu, pilot bisa mematikan salah satu mesin atau keduanya jika terjadi masalah di udara.
Hoke menjelaskan, penumpang tidak akan menyadarinya ketika seorang pilot melakukan itu karena kabin pesawat yang kedap. Bahkan, para penumpang tak akan sadar jika pesawat sedang menurunkan ketinggian agar pilot dapat memecahkan masalah.

“Mendarat dengan satu mesin tidak bekerja sangat mirip dengan pendaratan normal. Faktanya, banyak pesawat modern bahkan bisa mendarat otomatis dengan satu mesin dimatikan. Perbedaan terbesar yang akan diperhatikan penumpang adalah personel darurat yang berjaga sebagai tindakan pencegahan,” kata Hoke.
Ken Hoke menjelaskan bahwa insiden kegagalan mesin di udara sangat jarang terjadi karena teknisi yang berjaga di darat akan memastikan pesawat laik terbang atau tidak. Jika sesuatu terjadi, maka penumpang harus menunggu lebih lama atau penerbangan delay.
“Dalam kebanyakan situasi kegagalan mesin, penumpang mengalami tidak lebih buruk daripada penundaan dalam rencana perjalanan mereka,” ujar Kapten Hoke.
(Rizka Diputra)