Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Belajar dari Kasus Gagal Ginjal Akut, Kemenkes Targetkan 60% Obat-obatan Milik RI

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Kamis, 03 November 2022 |16:54 WIB
Belajar dari Kasus Gagal Ginjal Akut, Kemenkes Targetkan 60% Obat-obatan Milik RI
Ilustrasi Obat-obatan. (Foto: Freepik)
A
A
A

KASUS gagal ginjal akut memang membuat pemerintah terus berbenah akan industri kesehatan di Indonesia. Salah satu yang paling diwaspadai adalah bagaimana cara agar Indonesia tidak bergantung lagi pada bahan-bahan dari luar negeri.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menargetkan 60 persen alat kesehatan maupun obat-obatan dari hulu hingga hilir dikembangkan dan diproduksi di dalam negeri. Harapan itu tidak muluk-muluk, karena intervensi pun tengah dilakukan demi mencapai target tersebut.

"Kami ingin 50-60% alat kesehatan dan obat-obatan itu dari hulu hingga hilir dikembangkan dan diproduksi di dalam negeri," kata Menkes Budi di acara Pameran Inovasi Teknologi Farmasi dan Alkes Indonesia di ICE BSD, Kamis (3/11/2022).

Namun, ia tak menampik bahwa alkes dan farmasi yang ada di Indonesia masih didominasi oleh produk luar negeri. Itu kenapa, dia berharap dukungan dan kolaborasi dari stakeholder dan industri agar impian tersebut dapat tercapai.

"Saya hanya punya waktu 2 tahun untuk melaksanakannya. Waktu yang tidak lama, itu kenapa kami tidak bisa bekerja sendiri. Kemenkes butuh kolaborasi secara inklusi dari berbagai pihak agar Indonesia mandiri dalam hal kefarmasian maupun alat kesehatan," ungkap Menkes.

Harapan itu bisa tercapai dari unsur sederhana sampai dengan yang lebih besar. Pada unsur sederhana, kata Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Lucia Rizka Andalucia, itu dapat memastikan bahwa alat suntik, masker, atau kasa memakai dari yang produk lokal.

Lalu, untuk yang high-tech seperti USG, inkubator, atau patient monitor untuk ICU, Kemenkes juga berharap bahwa produk lokal dilirik oleh pasar.

"Produk lokal bisa berjaya kalau dibeli oleh pasar. Itu kenapa, kami berharap kepada konsumen agar lebih banyak menggunakan produk dalam negeri, sehingga kemandirian tersebut dapat tercapai," ungkap Rizka.

Kemenkes juga telah melakukan beberapa intervensi agar farmasi dan alat kesehatan lokal lebih banyak dilirik, salah satunya adalah transfer teknologi dari luar negeri ke Indonesia. Ini diharapkan dapat meningkatkan level dan kualitas produk lokal, sehingga bisa bersaing dengan produk impor.

Dalam kesempatan itu juga Rizka menerangkan bahwa dengan adanya temuan kasus gangguan ginjal akut, ini menjadi pemantik bagi banyak pihak agar lebih percaya pada produk dalam negeri.

"Dengan adanya kasus gangguan ginjal akut, itu jadi penyemangat kami untuk bisa memastikan bahwa produk farmasi maupun alat kesehatan dalam negeri bisa lebih dilirik," tambahnya.

Perlu diketahui, Badan Pengawas Obat dan Makanan mengungkapkan bahwa bahan baku Propilen Glikol yang dipakai PT Yarindo produksi DOW Chemical Thailand LTD dari CV Budiarta. Sementara itu, PT Universal membeli bahan baku Propilen Glikol produksi DOW Chemical Thailand LTD dari PT Logicom Solutions.

Bahan baku tersebut terbukti menyebabkan munculnya cemaran etilen glikol dan dietilen glikol yang menjadi faktor terkuat penyebab masalah gangguan ginjal akut yang telah menewaskan 178 bayi dan anak-anak Indonesia.

(Martin Bagya Kertiyasa)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement