SEBUAH pakem berkembang dalam masyarakat bahwa seorang pria "dilarang untuk menangis." Bahwa "menangis" bukanlah "identitas" dari pria yang jantan. Ungkapan itu menggambarkan sebuah toxic masculinity. Yaitu sebuah aspek negatif dari sifat maskulin yang dilebih-lebihkan.
Hal ini membuat anak laki-laki dan laki-laki merasa tertekan untuk menyesuaikan diri karena ekspektasi dalam masyarakat. Kebanyakan orang beranggapan pria yang mengekspresikan perasaan lemah mereka terlihat anomali dan dianggap "cemen."

Kondisi ini jika terus berlanjut akan berdampak buruk pada karakter pria tersebut. Dikutip dari verywellmind, ada beberapa dampak yang ditimbulkan dari toxic masculinity ini. Simak ulasannya.
1. Kekerasan berbasis gender
Karena kekakuan yang ada, membuat pria menjadi superior. Ini tak menutup kemungkinan ia menganggap remeh wanita. Tak hanya itu, pria yang superior akan dengan tega melakukan kekerasan kepada perempuan. Karena selain merasa diri mereka "hebat," trauma yang terpendam dalam diam karena tak boleh dipertontonkan demi menjaga maskulinitasnya, muncul dalam bentuk kekerasan kepada gender yang berbeda.
2. Tumbuh dengan trauma menetap
Karena didikan sejak kecil yang melarang mereka memperlihatkan sisi lemah dan kesedihan, membuat mereka tumbuh dengan perasaan trauma menetap. Trauma itu lahir dari perasaan diabaikan, menekan emosi, hingga tak jarang membuat frustasi dan berakhir bunuh diri.
3. Sulit mengendalikan emosi marah
Karena sudah terbiasa memendam sejak kecil, saat sudah merasa besar dan mampu melakukan semua sendiri, pria menjadi cenderung emosional. Kemarahan tak terkontrol karena merasa pria itu terlahir tangguh sesuai konsep toxic masculinity.
(Vivin Lizetha)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.