Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Warning! 1,2 Juta Kematian Terjadi Akibat Resistensi Antibiotik

Kevi Laras , Jurnalis-Kamis, 25 Agustus 2022 |20:06 WIB
Warning! 1,2 Juta Kematian Terjadi Akibat Resistensi Antibiotik
Resistensi antibiotik berbahaya (Foto: Cooperdores dar verdade)
A
A
A

MELIHAT jumlah kasus akibat mikroba atau antimicrobial resistance (AMR) disebut sebagai silent pandemic. Kementerian kesehatan (Kemenkes) mendorong penggunaan obat antibiotik.

Hal tersebut diinisiasi dalam pembahasan aturan penggunaan antibiotik, dalam side event AMR karena Indonesia salah satu negara tropis yang angka infeksinya tinggi.

 resistensi antibiotik

"Sebanyak 1,2 juta kematian itu terjadi karena antibiotik yang tidak mempan lagi terhadap infeksi tertentu,” kata Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Dante Saksono Harbuwono dalam Sehat Negeriku, dikutip Kamis (25/8/2022).

Wamenkes menilai resistensi antibiotik akibat mikroba terjadi, karena protokol pengobatan yang sembarangan. Akibatnya, infeksi pada pasien bertambah parah dan menyebabkan angka kematian tinggi.

Selain itu, resistensi antibiotik akibat mikroba bisa berasal dari hewan dan tumbuhan. Wamenkes menyoroti pendekatan one health dalam merespons masalah tersebut.

 

“Melalui pendekatan one health, di mana infeksi itu bisa berasal dari hewan, tumbuhan. Itu juga penting dilakukan karena ternyata banyak sekali penggunaan antibiotik pada hewan dan tumbuhan yang tidak rasional yang menyebabkan resistensi pada manusia,” jelas Wamenkes Dante.

Kendati demikian, pihaknya akan mempercepat upaya penanggulangan AMR terutama di Indonesia. Negara-negara G-20 juga memiliki peran strategis untuk mendorong pencegahan dan pengendalian AMR yang berkelanjutan di tingkat nasional dan global

Kementerian Kesehatan juga berkomitmen untuk bekerja sama dengan kementerian teknis lainnya dan secara bersamaan melakukan transformasi sistem kesehatan.

“Di antara inisiatif yang dilakukan, kami menawarkan penyelesaian masalah AMR, yakni dengan pembentukan inisiatif sains berbasis genom biomedis pada pengobatan yang bersifat presisi,” katanya.

(Dyah Ratna Meta Novia)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement