Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ilmuwan Minta Virus Cacar Monyet Namanya Diganti, Kenapa?

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Senin, 13 Juni 2022 |11:36 WIB
Ilmuwan Minta Virus Cacar Monyet Namanya Diganti, Kenapa?
Virus cacar monyet masih merebak (Foto: BBC)
A
A
A

PARA ilmuwan yang berasal dari Afrika dan beberapa negara lain mendesak penggantian nama virus cacar monyet (West Africa dan Congo Basin). Menurut mereka, nama tersebut sungguh mengandung stigma negatif dan diskriminatif.

"Dalam konteks wabah global, penamaan nama virus cacar monyet bukan hanya keliru, tapi juga diskriminatif dan mengandung stigma," kata ilmuwan dalam laporan paper yang diterbitkan secara online, dikutip dari Stat News, Senin (13/6/2022).

Christian Happi, seorang Direktur African Center of Excellent for Genomics of Infectious Disease di Redeemer's University di Ede, Nigeria, adalah salah seorang ilmuwan yang mengusulkan perubahan nama tersebut. Secara sederhana, ilmuwan meminta nama cacar monyet diubah menjadi angka saja.

"Ini yang kemudian dilakukan pada SARS-CoV2 yang mana sebelumnya sempat dikenal dengan istilah virus Wuhan. Kenapa menamai virus berdasarkan lokasi ditemukannya virus tersebut?" tegas Happi.

 cacar monyet

Tak hanya soal nama, Happi pun geram dengan pemberitaan di banyak media yang menampilkan tangan anak-anak Afrika dengan lesi cacar monyet untuk judul berita terkait dengan artikel tentang wabah yang menyebar di antara pria gay.

 BACA JUGA:Apakah Cacar Monyet Sisakan Bekas Luka?

"Kami menilai ini adalah diskriminatif dan menurut kami itu menstigmatisasi dan sampai batas tertentu, saya merasa itu rasis," ungkap Happi.

"Kami tidak mengerti, mengapa pemberitaan cacar monyet yang terjadi di negara non Afrika, tapi foto yang ditampilkan tangan anak-anak Afrika yang kena cacar monyet. Tidak ada hubungannya itu," lanjutnya.

Di sisi lain, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyetujui gagasan ini. Ya, gagasan untuk mengganti nama virus cacar monyet tersebut. "Ada dukungan besar untuk hal itu," kata Maria Van Kerkhove, kepala unit penyakit baru dan zoonosis di program darurat WHO.

Meski mendapat dukungan WHO, untuk mengganti suatu nama penyakit atau virus, keputusan ada di tangan organisasi yang dikenal dengan sebutan Komite Internasional untuk Taksonomi Virus. Organisasi itu juga yang memberi nama SARS-CoV2, dan WHO yang memberi nama Covid-19.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement